Minggu, 03 Februari 2013

Semua akan indah pada waktu-Nya..


Beberapa hari yang lalu, seorang teman bbm dan menawariku untuk apply menjadi direktur sebuah LSM. Whaaatt?? Nggak salah tulis, nih? Director (sutradara) mungkin? Tanyaku. Tapi si temen kekeh bilang, Direktur. Oh, oke. Beberapa hari setelah itu, aku baru bisa membuka email darinya yang berisi attachment 'undangan' untuk melamar menjadi Direktur itu. Recruitment terbatas, dan aku dia rekomendasikan karena dianggap pantas. Hemm..sik..sik..ojo kesusu :D

Membaca attachment undangan menjadi Direktur itu, aku jiper sendiri. Di situ ditulis kalau calon direktur ini harus punya integritas, ide-ide baru, dan mampu mengangkat potensi 65 juta remaja di Indonesia. Wow! Ini nggak main-main. Ini serius. Yang bikin sedikit 'tenang' adalah fakta bahwa bidang atau media yang digunakan LSM ini sudah akrab dengan keseharianku, yaitu media audio visual. Secara teknis, aku bisa, tapi jadi seorang direktur itu berarti jadi pucuk pimpinan yang harus bisa memimpin bawahan2nya plus 65 juta remaja di Indonesia! Memimpin di sini bukan hanya secara teknis tapi non teknis juga, mental dan sikap. Ya toh? Hyungalah...

Tiba-tiba, yang ada di pikiranku bukan lagi persoalan jadi melamar atau tidak untuk posisi Direktur itu, tapi hal lain yang membuatku realize kalau untuk menikah pun, aku belum siap....
Sudah sering aku dengar, kalau kesiapan menikah untuk setiap orang itu beda2. Kadang yang kita lihat, belum tentu yang dirasa si orang itu. Kadang kita bertanya2, mengapa si A, si B, yang kelihatannya sudah mapan, dewasa, matang...belum juga menikah, tapi si C, si D, yang masih muda dan belum begitu mapan karirnya sudah berani menikah. Jelas, mereka memiliki jawaban dan alasannya masing2. Sepenuhnya aku menghormati hal itu. Sepenuhnya juga aku memahami mengapa beberapa orang masih tak mengerti dan 'memaksa' kita untuk segera menikah dengan alasan kepantasan dan kelayakan menurut 'ukuran' mereka :)

Ketika aku membaca 'syarat' menjadi Direktur itu, aku menanyakan pada diriku sendiri, mampu atau tidak. Yang tau kemampuan dan potensi kita, ya diri kita sendiri, maka aku mulai menanyakan 'kekuatanku'.
Q : "Kamu nanti harus mimpin anak buah, loh"
A : "Bisaaaa. Setidaknya sudah kujalani hal seperti itu.."
Q : "Tinggal di Jogja?"
A : "Mau banget!"
Q : "Ini nirlaba loh.."
A : "i know... bisa dipikirkan nanti..toh aku masih bisa bekerja yang lain juga.."
Q : "Menghadapi birokrasi, orang2 tua..?"
A : "Gampaaang..toh, nanti ada teman2 yang membantu.."
Q : "Ada jutaan remaja yang melihatmu, menunggu aksimu, mungkin 'bergantung' harapan padamu.."
A : "mmm..."
Q : "Kamu tuh kecil, masih kaya anak2. Butuh sosok keibuan atau setidaknya dewasa untuk 'memimpin' mereka. Look at your self!"
A : "...."
Q : "Direktur kok cengengesan, ngetwit asal, senenge dolan...ah, rung pantes dadi conto!"
A : -----------
Q : "gitu aja, kok ya mau nikah! Tanya hati kecilmu, bisa nggak handle anak kecil yang nangis, yang sakit, yang butuh di didik? Allah nggak bakal ngasih kalau kamu belum siap. Sekeras apapun kamu teriak 'SIAP' tapi hati kecil dan Tuhanmu nggak bisa dibohongi!"
A : :(

Aku males melanjutkan tanya jawab sama diriku sendiri ini... Makin banyak nanya, makin jiper aja. Lambat banget ya, perkembangan hidupku. Mau dewasa aja susah. Mau siap nikah aja susah. Mau berani menjalani hidup seperti orang dewasa lainnya aja susah.
Ya memang, aku masih 'enggan' kalau harus direpotkan dengan bayi atau anak kecil, tapi kan siapa tau kalau anak sendiri, enggak. Ya kan?? Aku juga ogah kalau harus bersikap ala ibu-ibu itu. Sangat bukan aku! Cara berpakaian, sikap, dan gesturku itu nggak dewasa banget, lah. Cant explain this, tapi kamu pasti tau maksudku. Gimana aku bisa 'memimpin' anak-anakku kalau mbayangin memimpin remaja2 di luar sana aja aku ragu. Belom lagi harus mempertanggungjawabkan pekerjaan pada jajaran direksi, komisaris, atau owner secara langsung. Kalau mbayangin itu aja masih sulit, gimana mau mbayangin ngadep mertua dan bertanggungjawab untuk bersanding setia sama anaknya... *fiuh!

Ini sama kaya jamannya cari2 kerja dulu. Tuhan ngasihnya bertahap untukku. Tapi pada akhirnya aku realize, kalau itu semua disesuaikan dengan kesiapan diriku. Sebenarnya setiap kita, menyadari banget kapan benar2 siap akan suatu hal, kapan belum. Dulu, ketika melamar kerjaan di perusahaan2 besar di Jakarta, selalu terselip rasa khawatir, akan mampukah aku bekerja di situ, di kota yang jauh dari keseharianku, dan beneran gak berhasil. Trus, aku mulai 'mengerucutkan' pilihan, untuk melamar ke bidang/perusahaan yang aku minati dan sesuai dengan latar belakangku, yakni media. Tapi tetep aja, ketika melamar ke TV-TV nasional saat itu, masih terselip ragu, bisa nggak ya....mampu nggak ya dengan 'ilmu' segini...cukup nggak ya dengan modal tabungan segini... dan beneran, nggak lolos juga.
Sampai suatu masa, setelah aku ngerjain banyak program tv (meskipun skala lokal), setelah aku makin banyak mengerti tentang bekerja di media, setelah aku mulai merasa cukup tabungan untuk (misalnya) dibawa ke Jakarta, setelah aku merasa pede dengan penampilan dan sikapku untuk bekerja di kota besar, setelah aku merasa 'stag' dengan yang kulakukan di kantor lama....Allah mengabulkan doaku, aku diterima bekerja di tv nasional dan merantau ke Jakarta. Entah darimana rasa 'siap' itu muncul, aku hanya merasa siap aja!  Dan itu memang indah dirasa... :D

Sekali lagi, ukuran kesiapan setiap orang itu beda-beda. Semua itu dipengaruhi oleh mental, emosional, spiritual, latar belakang sosial, pendidikan, dan pengalaman hidup. Lalu mengapa harus memaksa jika Tuhan belum berkata, iya?!

Sabtu, 17 November 2012

TWEET DI RETWEET

Empat hari yang lalu, tiba-tiba akun twitku banjir mention! Rupanya ada satu akun yang biasa nge-twit kalimat-kalimat bagus, me-rituit punyaku. Awalnya aku lupa dengan twit yang di RT itu, wong udah lama sekali. Bener-bener nggak ngenalin. Tapi setelah dia me-rituit twit-twitku yang lain, aku mulai inget pernah nge-twit begitu. Oalaah...betapa pikunnya diriku... *sigh

Ini adalah 4 twit jaman baheula yang di-rituit @JelajahKata dan @KutipanUntukmu, hingga akhirnya di-rituit lagi sama banyak follower mereka. Jangan ketawa dulu ya, itu galaunya udah berlalu kok... :p


'Kekasih itu dia yang mengerti mauku tanpa kukatakan. Memahami maksudku tanpa kujelaskan.'

'Rindu itu ketika aku membubuhkan titik - titik tak beraturan pada kertas, ternyata menyusun namamu.'

'Rindu itu, membayangkanmu ketika aku berbicara dengan yang bukan kamu.'

'Apalah aku. Kutangkup sayap, kuurungkan harap. Dan perlahan, aku mengendap pergi.'


Oooh gooosh.....galau nian twit-twitku ituuuh! >_<

Well, kadang aku suka heran, kok bisa dulu bikin kalimat2 seperti itu. Suasana hati emang mendukung produktivitas tulisan, nih! hehehe... Padahal kadang yang aku tulis juga nggak melulu 'kisahku' loh, kadang dari melihat atau mendengar kisah orang lain, jadi tercetus ide menulis, yang kemudian aku twit atau posting di blog. 

Anyway, thanks buat yang sudah suka dan meng-RT twit-twitku itu. Mungkin mewakili hati dan pikiran kalian, mungkin juga tidak. Karena banyak juga yang hanya suka dengan 'permainan' kata-katanya. It's oke, itu nggak mengurangi rasa terimakasihku :)


@indriyuliani

Senin, 17 September 2012

SRIYANI




Inilah kota yang tak pernah tidur itu, Jakarta.
Saat yang mengaji subuh ini belum selesai, sebagian penduduknya yang lain sudah bersiap ke tempat kerja. Seperti diriku yang tengah menyusuri gang-gang sempit perkampungan tepi kota ini untuk mencapai jalan raya dan menunggu angkot di sana.

Satu-persatu penghuni rumah-rumah petakan yang kulewati, keluar dan ikut menyusuri jalanan sepertiku. Tak ada sapa. Pikiran kami terlalu sibuk berdoa agar hari ini tidak terlalu macet, tidak telat tiba di tempat kerja, dan bisa kembali ke rumah sebelum larut malam untuk menebus kantuk yang masih menyisa di mata. Sesekali terdengar suara tangis anak kecil. Mungkin baru saja bangun dan tak mendapati ibu di sampingnya karena sedang menyiapkan sarapan di dapur atau ... ya, sudah berangkat kerja sepertiku.

Mbak Ani, pedagang sayur keliling yang kukenal, kulihat tengah menyiapkan dagangannya, menyusun satu-persatu sayuran yang dibeli dari pasar dini hari tadi. Pedagang sayur keliling ini sangat membantu ibu-ibu yang tak sempat ke pasar atau kekurangan bumbu di tengah-tengah memasak.

“Berangkat kerja, Sri?” Tanya mbak Ani yang sudah melihatku dari jauh.
“Iya, mbak. Mariii..” Jawabku sambil melambatkan jalannya kaki.
“Monggo..monggo…” Mbak Ani melanjutkan menyusun dagangannya.

Di tepi jalan raya, sudah berjajar orang-orang sepertiku yang juga akan berangkat kerja. Sisanya adalah para pelajar yang sekolahnya jauh atau mungkin harus masuk di jam ke-nol. Angkot - angkot dengan jurusan berbeda silih berganti lewat di depanku. Lumayan penuh juga, angkot-angkot itu, padahal langit masih gelap. Mungkin karena ini hari Senin, setiap orang berburu cepat ke tempat aktivitasnya.
Serombongan keluarga pemulung dengan gerobaknya melintas. Di ujung jalan, petugas penyapu jalan raya yang berseragam orange tengah memindahkan sampah yang berhasil dikumpulkannya, ke bak sampah yang  ia bawa. Di seberang jalan, antrian pembeli nasi uduk juga panjang. Aku baru ingat kalau belum sarapan pagi.

Angkot yang kunanti tiba. Bergegas aku naik dan mendapat tempat duduk di pojok kanan belakang. Kuperhatikan penumpang yang lain, rata-rata memejamkan mata. Bisa tidur sejenak dalam perjalanan memang lumayan. Hebatnya, kami para penumpang angkutan umum seperti ini seperti diberi radar untuk selalu terbangun ketika akan sampai tempat tujuan.

Langit mulai terang saat angkotku memasuki terminal paling padat di Jakarta ini, Pulo Gadung. Buru-buru aku turun dan mengejar antrian bis kota terdepan yang sudah perlahan jalan. Soalnya kalau sampai ketinggalan, aku harus menunggu lama di bis kota berikutnya, yang baru akan berangkat jika tempat duduk penumpang terisi penuh. Itu bisa memakan waktu setengah jam lebih. Bisa terlambat aku nanti. Makanya, jadi penumpang kendaraan umum seperti ini harus gesit!

Lagi-lagi semua penumpang yang ada memejamkan mata. Yeah…mendapat tempat duduk di angkutan umum dan bisa tidur sejenak dalam perjalanan itu surga! Aku pun melakukan hal yang sama. Sayup-sayup kudengar pengamen cilik menyanyikan lagu dari band-band yang sedang hits saat ini.

“Mampang…Mampang!”
Kernet bis berteriak untuk memberitahu posisi kami, para penumpangnya, saat ini. Hmm.. sebentar lagi giliranku turun. Kukeluarkan ongkos pas dari saku tas bagian depan yang memang sudah kusiapkan sejak dari rumah. Membuka-buka dompet di atas kendaraan umum bisa mengundang pencopet, makanya tak pernah kulakukan.

“Kiri, bang!”
Angkot menepi dan melambat namun tak sampai berhenti. Aku pun melompat turun.

Inilah kantorku tercinta. Gedung berlantai duapuluh lima yang terkenal se-antero Jakarta. Bangga sekali aku menjadi salah satu yang bekerja di dalamnya. Jam tujuh tepat aku tiba dan mengisi daftar hadir yang ada. Suasana masih lengang. Dua orang satpam berdiri di depan pintu kaca untuk memeriksa bawaan setiap orang yang masuk ke gedung ini. Sebelumnya, dua orang satpam yang lain juga sudah memeriksa di pintu gerbang kawasan gedung. Sejak aksi teror bom marak di negeri ini, pengawasan keamanan diperketat di mana-mana, termasuk di tempat kerjaku ini.

Seperti gedung-gedung perkantoran yang lain, tempat kerjaku ini juga ber-AC dan berpengharum ruangan yang menyemprot otomatis setiap sepuluh menit sekali. Dinginnya ruangan lebih dingin dari mol yang sering kudatangi kalau habis gajian. Makanya aku bersyukur sekali kerja di tempat ini karena tidak harus bekerja panas-panasan seperti tetanggaku yang jualan pakaian di pasar atau adikku yang menjadi pengantar makanan cepat saji dengan menggunakan motor. Orangtuaku juga bangga anak gadisnya bisa kerja di gedung bagus, terkenal, dan ber-AC seperti ini. Aku pernah mengajak mereka kemari saat hari libur, karena mereka penasaran dengan tempat kerja yang selalu kuceritakan wangi ini. Sepulangnya dari sini, mereka wanti-wanti agar aku bekerja dengan rajin, biar bosku sayang sama aku, dan memperpanjang masa kontrak kerja yang hanya berumur empat bulan saja. Oiya, satu lagi yang menyenangkan adalah gaji yang kuterima sebulan sekali itu langsung ditransfer ke rekeningku. Rekening itu dibuatkan oleh perusahaan tempatku kerja untuk mempermudah pembayaran gaji, katanya. Jadi, setiap bulan aku tinggal mengambil uang dengan kartu ATM yang baru pertama kalinya kumiliki. Rasanya keren sekali!

Aku bergegas ke ruang ganti untuk menukar pakaian yang kukenakan dengan seragam kerja. Sengaja aku memakai seragam jika sudah di kantor karena tak ingin seragamku basah oleh keringat dan bau asap kendaraan dalam perjalanan. Begitu juga dengan sandal yang kukenakan, kuganti dengan sepatu flat hitam yang kusimpan di belakang lemari ruang ganti. Tiap hari berlari mengejar angkutan umum tak akan membuat alas kaki tahan lama, makanya aku selalu mengenakan sandal saja, lalu menggantinya dengan sepatu, di kantor. Kupatut-patut diriku di kaca, memastikan kerapihan seragam yang kukenakan, seragam biru tua kebanggaan dengan tulisan namaku di saku depan; Sriyani, dan tulisan huruf kapital di punggung belakang atas untuk pekerjaanku; CLEANING SERVICE. Aku siap bekerja.

Minggu, 26 Agustus 2012

The Fake Man

Kebodohan laki-laki adalah tidak pandai menyimpan rahasia.
Kebodohan perempuan adalah mudah percaya pada lelakinya.

WHAT IF....
Seseorang yang (pernah) kamu sayang, dan memberikan nama kesayangan untukmu, ternyata juga melakukannya pada orang lain?
Dan tak cukup panggilan, tapi juga lagu-lagu yang pernah ia 'berikan' untukmu, quote gombalan untukmu, atau status-status di media socialnya untukmu......ternyata juga ia berikan pada orang lain. Kira-kira ia ada di level orang palsu tingkat berapa??

Aku tahu hal ini sejak lama tapi tak peduli sampai ketika kutahu semakin banyak saja kebohongannya. Well, 3 hal yang aku rasa :
1. Tersinggung dan kecewa
2. Bersyukur karena lebih dulu tahu
3. Kasihan sama perempuan itu...

Huft! Sekarang doa kuat2, semoga gak tergoda lagi untuk mengingatnya!


*this is for somebody who call you "Hun", who sent u a message "If a guy pauses his PS3 just to text u back, marry him", and who ever said you were "the best option"*

Eat that!! :p


Jumat, 25 Mei 2012

indriyuliani.com

Dengan bantuan kakak tercinta... (cieh), akhirnya www.indriyuliani.com bisa tampil ke permukaan...hehehe..

Sebelumnya udah bisa, tapi aku 'nyerah' gak bisa ngilangin label 'wp' (wordpress) di belakang url ku. Untung si kakak mau nolongin. Thanks yaaa ;*

Well, semua blog masih akan kuisi. Beberapa ada yg cross posting. Tapi mungkin yang indriyuliani.com itu bakal lebih fresh dan dewasa. huehehe..

Then, how's ur life? Im good :)

Closed

Dan akhirnya semua akan kembali pada keluarga :)

Seringkali kita melakukan kesalahan-kesalahan dalam hidup. Seringkali kita melakukan kesalahan dalam cinta. Tapi seperti bunyi BM yang kuterima beberapa hari lalu, "semua ini pun akan berlalu". Gak ada yang perlu terlalu dibesar-besarkan, dicemaskan.

Enjoy your life, im happy for u ;)


Sabtu, 28 April 2012

Found your soulmate, it's not like the movies....



Cerita di postingan ini dimulai dengan lirik lagunya Katty Perry - Not Like The Movies. Cekidot!:)

He put it on me, I put it on like there was nothing wrong.
It didn't fit, it wasn't right, wasn't just the size.
They say you know when you know
I don't know wow wow wow wow wow oooh

I didn't feel the fairytale feeling no
Am I stupid girl? For even dreaming that I could.

Chorus
If it's not like the movies
That's how it should be yeah
When he's the one, I'll come undone,
And my world will stop spinning
And that's just the beginning .... yeah

Snow white said when I was young,
One day my prince will come
So I wait for that date.
They say its hard to meet your match,
Find my better half
So we make perfect shapes

If stars don't align, if it doesn't stop time,
If you cant see the sign wait for it.
One hundred percent with every penny spent.
He'll be the one that, finishes your sentences.

Back to chorus

Bridge
'Cause I know you're out there,
And your, your love came for me oh oooooh
It's a crazy idea that you were made
Perfectly for me you'll see

Chorus
Just like the movies, that's how it will be.
Cinematic and dramatic with the perfect ending.
Whoooa oooh
It's not like the movies,
But that's how it should be yeah
When he's the one, you'll come undone,
And your world will stop spinning,
And it's just the beginning.

Lagunya keren, ya?! :)
Terdengar galau, tapi lebih galau lagunya Adele, sih! hehehe...
Kalau buat aku pribadi, lagu ini punya spirit luar biasa untuk para jomblowan-jomblowati *hahaha*. Malah bikin semangat to found your 'perfect match'. Jodohmu!:)

Buat yang sudah memasuki usia 'seharusnya' menikah, pasti udah sering banget denger kalimat, "Masa' teman sebanyak itu nggak ada yang cocok? Jangan pilih2 laaah.." :))

Well, kalo aku pribadi sih, EGPC. Emang Gue Pikirin, Cyiiin! haha... Maksudnya, apapun yang mereka bilang, cukup berhenti di telinga saja. Jangan dimasukin hati apalagi kepikiran. That wud steal ur energy. Yang tau apa yang kamu mau, apa yang baik untukmu, apa yang seharusnya kamu lakukan, apa yang cocok dan tidak, ya kamu sendiri. Jangan pernah doing something karena dibawah tekanan orang lain. You have your own freedom! Bahkan Tuhan demikian demokratisnya membiarkanmu mencari dan menemukan jodohmu...masa' mo kalah sama nyinyirnya tetangga :p

Emang unik, sih...kalau ngomongin soal jodoh. Sometimes, u feel 'klik' dengan seseorang dan yakin itu jodohmu, tapi ternyata enggak. Tapi aku masih yakin, itu terjadi karena sebenarnya ada yang jauh lebih 'match' dari sekedar 'klik' itu tadi. Seseorang yang akan 'finishes your sentences' kata mba Katty Perry :)

Setiap orang membutuhkan pasangan. Itu emang udah fitrahNya kok. Tapi seperti halnya maut dan rejeki, jodoh itu misteri. Dia akan datang saat kamu siap. Sama dengan pekerjaan dan hal lain di kehidupanmu, kalau kamu teliti. Buatku sendiri, seseorang yang akan bersanding denganku seumur sisa hidup ini adalah seseorang yang dengannya aku ikhlas bersanding. Yang dengannya aku menjadi hamba dan manusia yang lebih baik lagi. Yes, sure i knew thats nobody perfect, dan aku gak mencari kesempurnaan kok. Aku mencari yang membuat hal ini menjadi sempurna...'Find my better half, So we make perfect shapes' kata mba Katty Perry lagi :))

Mungkin kamu pernah menemukan, orang2 yang terasa 'pas' di hati tapi gak bisa kamu miliki. Buatku, itu menjadi pemicu mimpi, bahwa ada yang lebih 'pas' dari itu lagi. Kita boleh memilih, tapi penetap atas pilihan itu hanyalah Pemilik hidup ini. Tuhan tau siapa yang kumau, tapi Dia jauh lebih tau yang terbaik buatku. So, i'll lying my hope on His hand. Hope to found my soulmate on next weekend ;)




x