Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label religi. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Maret 2010

My Name is Khan

Film India kedua, setelah 3Idiots yang 'mengguncang' pecinta film Jakarta :)
Film ini bercerita tentang kehidupan muslim di Amerika, sebelum dan sesudah tragedi 9/11. Bumbu yang apik adalah aktingnya Shah Rukh Khan sbg seorang autis (daaann satu lagi penyakitnya tp aku lupa hehe...).

Misi besar film ini, cukup tersampaikan. Tapi kalau dari segi emosionil, aku lebih memilih 3Idiots sebagai jawaranya! 3Idiots bisa membuat kita tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan.... semua yg pernah nonton film itu pun mengatakan hal yg sama.

Yang unik buatku, sebelum nonton Khan, aku ngobrol sama temenku tentang (lagi2) pasangan beda agama dan tentang perbedaan itu sendiri. Kebetulan yang mengasyikkan! hehe...
Satu yang akan selalu sulit dijelaskan ketika ini sudah menyangkut hal yang diyakini. But, satu yang penting bisa dengan mudah 'dikatakan' Khan dlm film itu; bahwa hanya ada dua jenis orang di dunia ini - orang baik yg selalu melakukan hal2 baik, dan orang jahat yg selalu melakukan hal2 jahat. Kalau sudah begitu, tinggal kitanya, mau menggunakan 'alat ukur' apa.

Piss & Love! :)

Minggu, 21 Februari 2010

Pagi yang Menakjubkan!

Pagi ini, kudengar adzan subuh berkumandang.
Selalu takjub pada manusia-manusia pagi yang rajin menyerukan panggilan itu. Semoga Tuhan membalasnya berkali-kali...


Mata ini belum terpejam sejak hari dikatakan malam. Biarlah, toh kemarin aku sudah memanjakannya kala siang. Ada yang aneh, biasanya aku menderu akanmu, tapi kali ini tidak lagi. Apakah kau sudah benar-benar pergi?

Sayup kudengar mereka mengaji...
Kira-kira, doa apa yang pantas kupanjatkan subuh ini?

Tuhan, beri kami kemenangan...
Pada nafsu, takut, dan ketidaksabaran.
Tuhan, beri kami keindahan...
Di hati ini, agar bahagia berhari-hari.

Baiklah, aku segera menghadapMU
Rancangan doaku pasti sudah Kau tau
Tapi Kau tak suka aku diam, bukan?
Maka akan kukatakan padaMU, dan tolong dikabulkan.
Terimakasih... :)

Minggu, 11 Oktober 2009

Berjilbab itu aturan agama atau Pemda?

Namanya Qory Sandioriva. Lahir di Jakarta, 17 Agustus 1991 (18 years old, but she looks like 28?! :p ).

Dirinya mewakili Aceh dalam ajang pemilihan Puteri Indonesia 2009. Kebetulan, dia keluar sebagai pemenangnya. Kontroversinya adalah soal jilbab yang biasa dikenakan oleh peserta2 dari Aceh tidak dikenakan oleh Qory. Sebenarnya akan terasa biasa2 saja andai ia memang tidak berjilbab dari sebelum mengikuti ajang ini dalam kesehariannya. Tapi yang jadi bahan rumpian adalah ketika ia menjawab bahwa dirinya menanggalkan jilbab untuk mengikuti ajang ini dan itu sudah mendapat ijin dari Pemda. Wtf! Emangnya berjilbab itu aturan Pemda???

Tuhan mengijinkan dia untuk menang, agar terasa sempurna ‘pengorbanannya’ dan nikmat perjuangannya. Mungkin tidak pernah terpikir oleh Qory bahwa kesenangan itu adalah tes terberat yang diberi Tuhan untuk hambanya. Well, ortunya Qory bilang akan mempertanggungjawabkan ini pada Tuhan. Ow..ow..ooww...
Ibarat kata, anak kecil dicekoki permen, manis..lezat...tapi lama2 baru tau kalau giginya tanggal satu-persatu. Tuhan tidak jahat, tapi Tuhan ingin hambanya kuat dan pintar, dek Qory!:)

Hak asasi Qory mau berjilbab atau tidak, tapi mbok ya kalau ngasih jawaban, alasan, apalagi di ajang besar yang ditonton jutaan umat itu, ya yang cerdas! (jadi, siapa yg gak cerdas; peserta atau pemilihnya??). Kalau pinjem bahasanya Acink (pria-lajang-bohay <kl blg gendut ntar ngambek dia>-tinggal di Jogja), “KIRO-KIROO, MBAAKK!!!” :D
Baiklah...ini bukan ajang pemilihan Puteri Islami atau Muslimah Indonesia, kok...jadi memang tak ada yg mengharuskan Qory berjilbab, meskipun ia mengaku wakil Aceh, dan Aceh menerapkan syariat Islam (termasuk mengenakan jilbab bagi perempuan). Hanya saja, kasian orang Aceh yang memang benar2 ingin menjalankan syariat Islam karena Islam. Apakah ada pemaksaan dalam menjalankan syariat Islam di Aceh?? I dunno. Belum pernah ke Aceh, dan tidak tinggal di Aceh. Sangat disayangkan kalau itu yang terjadi. Ke-ikhlasan dalam beragama yang semestinya ada. Iman tidak bisa diatur oleh peraturan Pemda, sebungkus mie, atau mahkota putri-putrian. Maaf jika ada yang keberatan dengan postingan ini. Begitulah drama wiken ini.

Selasa, 08 September 2009

ANUGERAH TERINDAH....

Baru hari ini aku bener2 mengerti, paham, menyadari, meresapi benar bahwa terlahir dan menjadi seorang muslim adalah anugerah terindah untuk hidupku. Alhamdulillaah...makasih, ya Allah :)
Biasanya, kalau mendengar ustadz ceramah dan bilang kalau kita harus bersyukur menjadi seorang muslim, aku menganggapnya sebagai kata2 bijak saja...sekedar anjuran untuk selalu mensyukuri keadaan apapun yang kita hadapi. Ternyata, kalimat itu maknanya luas dan dalam.
***
Teman1 : "..Kita kan harus menjaga hubungan baik antara sesama manusia dan Tuhan. Menurutku, hubungan ke sesama itu 80%, ke Tuhan 20%. Aku sudah menjadi orang baik kok ke sesama, ya sudah!"
Aku : "Lho, orang atheis juga baik ke sesama. Tapi ada beda antara orang yang baik karena beriman dan orang yang baik karena moral/etika. Lagi pula, sifat baik dan buruk itu fitrah!"
***
Teman2 : "Kamu bisa bilang tentang ini semua, karena kamu didoktrin oleh keluargamu dari kecil ttg Islam! Nah, kalau orang atheis, mereka kan gak tau ttg Allah. Dan kamu tau nggak kenapa aku beragama Islam? Karena hanya Islam yg aku tau! Itu yang didoktrin oleh orang tua kita sejak lahir!"
Aku : "Kalau memang nggak merasa sreg dengan menjadi muslim, kenapa nggak pindah agama? Kenapa nggak mau cari tau? Rugi banget jadi dirimu! Kan kita dikasih otak dan akal, buat mikir!"
***
Teman1 : "Kalau aku bukannya nggak ngebolehin, tapi kalau istriku jilbaban, ribet!"
Teman2 : "Kalau aku cuma gak bisa terima aja alasannya yg bilang, itu bagian dari peningkatan. Kubilang aja, kalau dia berjilbab sebagai peningkatan, aku juga akan melakukan peningkatan dengan beristri empat!"
Aku : ................ (bengong mode on sama adek kecil)
***
Hhhh.....
Lain lubuk lain ikannya, lain kepala lain pemikirannya!
Sama2 orang Islam aja, pasti beda pola pikir dan keyakinannya.
Tiba2, aku meresapi... betapa nikmatnya keadaan diri ini. Aku meyakini benar apa yang kupeluk dan kulakukan. Aku pernah mengalami ke-apatis-an dalam beragama seperti teman2ku. Aku pernah punya pertanyaan2 itu. Begitu banyak waktu yang harus dilalui untuk menjadi tau. Begitu banyak diskusi, perdebatan, obrolan, bacaan yang harus dilewati. Bukan proses belajar yang singkat, memang...tapi semuanya menjadi terasa indah dan bermakna. Ini sangat sulit dijelaskan, tapi sumprit, aku benar2 bersyukur memiliki keyakinan dalam Islam. Ya, Allah...tolong dijagain, yaaa...!!
***
Pastilah sulit menerima penjelasan akan sesuatu yang hanya diyakini sebagiannya atau malah tidak diyakini sama sekali. Padahal sebenarnya kita punya hati kecil yang tidak akan berbohong jika ditanya. Hanya saja, tidak semua hati kecil berfungsi sebagaiman mestinya. Tergantung si tuan sering memperlakukannya seperti apa.
***
Aku memang terlahir di keluarga yang memeluk agama Islam. Keluargaku sendiri bukanlah tipe keluarga muslim yang taat sekali. Aku juga bukan seorang muslim yang fanatik. Dulu, orang tuaku tidak pernah memaksa atau menyuruhku untuk mengaji atau sholat lima waktu. Aku pun mengenal Islam hanya dari pelajaran di sekolah. Dan dengan 'kepintaranku', kadang aku 'menipu' Tuhan, waktu itu. Kalau aku mau ulangan, ujian, atau ikut perlombaan...barulah aku rajin sholatnya. Pikirku, Tuhan akan lebih mengabulkan doa anak yg baik dan sholat!;>
Tidak ada dogma tentang Islam yang begitu sangat ditekankan padaku di keluargaku. Bahkan malah aku yang 'memaksa' Bapakku untuk mengajariku membaca surat Al Fatihah dalam huruf arab, agar ketika guru di sekolah bertanya siapa yg mengajari kalian pertama kali membaca Qur'an, aku bisa menjawab bangga; Bapakku! :)
***
Andaikan aku terlahir tidak dalam keluarga muslim, aku berharap, otak-akal-ilmu-dan hatiku tidak menjadi tumpul dan diam saja.
Aku berharap mereka akan berteriak2 mencari makna diri dan hidup ini, nggak sekedar terima beres, pasif, manut-nurut-ikut tanpa tau apa yang sebenarnya dilakukan.
Aku berharap ada kebaikan semesta yang menuntunnya mencari kesejatian hakiki....
Aku percaya, kita tidak ada begitu saja, tapi diciptakan dan bukan untuk menjadi sia-sia.
Aku percaya, ada alasan dan tujuan untuk semuanya...
Semoga aku dan teman2ku selalu dibukakan mata hati dan pikirannya, untuk menerima kebaikan dan kebenaran, amiin...
(Jakarta, Ramadhan 1430 H)

Kamis, 20 Agustus 2009

BEDA AGAMA DI SEVENTEEN

Eh, udah liat video klipnya Seventeen yang “Jalan Terbaik” belum?
Haduuhh...itu video klip kok ya, tumben2nya bercerita tentang pacaran beda agama. Huhuhu... :p

Biasanya, kisah seperti itu cuma jadi bumbu di cerpen majalah atau cerita novel. Di film aja aku belum nemuin tuh! Temanya emang sensi, sih. Mungkin bukan karena nggak berani mengungkap cerita berlatar belakang seperti itu, tapi karena solusi yang harus menjadi endingnya akan sangat subyektif dan rumit sekali! Hehehe....;>

‘Jalan Terbaik’ versinya Seventeen di VK itu adalah berpisah. Sejauh ini yang kutahu, ya emang cuma ada dua solusi umum yang sering terjadi : berpisah atau salah satu ‘ikut’ agama pasangannya.

Mengambil salah satu dari dua solusi itu aja bukan perkara mudah, loh...karena ini menyangkut keyakinan. Satu hal mendasar yang sudah tertanam sebagai fitrah manusia ketika ia dilahirkan. Andai saja agama itu ‘sekedar’ jalan yang berbeda atau ‘ibarat’ pakaian berwarna pada manusia saja, pastilah tiap saat, tiap hari, kita bisa ganti2 baju semaunya dan pindah2 jalur jalanan kalau lagi bosen. Nyatanya, enggak ada manusia yang berganti atau pindah agama setiap hari atau berkali-kali. Ini karena agama bukanlah ‘sekedar’ jalan yang berbeda, apalagi ‘ibarat’ pakaian dengan warna beda yang melekat pada masing2 manusia. Ini perkara serius, perkara besar, perkara yang menuntun pada satu pertanyaan; untuk apa kita diciptakan?

Ku yakin kita akan bahagia
Tanpa harus selalu bersama
Tak perlu disesali
Tak usah ditangisi

(Seventeen – Jalan Terbaik)

Selalu ada hikmah disetiap kejadian. Itulah yang akan menjawab, seberapa tangguh dirimu?!

Jumat, 02 Januari 2009

PERCAKAPAN

Anak : Ibu, rakyat Israel mengutuk serangan negaranya ke Palestina...lalu, siapa yg menyerang itu?

Ibu : mungkin pemerintahannya...pemimpin mereka....

Anak : bukankah pemerintah dan pemimpin itu bekerja untuk rakyatnya? Lalu kalau rakyatnya tidak setuju, mereka bekerja atas nama siapa?

Ibu : emm...diri mereka sendiri...mungkin... (jawaban si ibu lirih)

Anak : Ah, mereka salah kalau begitu! Menyalahi aturan itu, Bu! Mereka mengingkari rakyatnya!!

Ibu : Sudahlah, Nak...itu masalah mereka!

Anak : Ibuuu..kan ibu yang mengajarkan aku untuk selalu peduli?!

Ibu : .....

Anak : Oh, iya...kalau Israel itu jahat, mengapa Tuhan membuat rencana mereka kesampaian?

Ibu : Tuhan punya alasan sendiri, Nak...

Anak : Apa alasannya, Ibu?

Ibu : sangat kompleks kalau dijelaskan...

Anak : Hemm..mengapa Tuhan itu ‘rumit’?

Ibu : Tidak, Nak...hanya kita saja yang terlampau dangkal untuk bisa menyelami ilmu-NYA...

Anak : Tapi Tuhan Maha Bijaksana dan Kuasa, bukan? Lalu mengapa orang tidak bersalah harus menderita? Mengapa IA tidak mencegah bom itu agar tidak jatuh dan meledak, Ibu?

Ibu : Mengapa tidak kau coba pikirkan hikmah yang terjadi dibalik semua itu saja, anakku?Hikmah bagi mereka yang bertikai, hikmah bagi kita...hikmah bagi dunia ini....??

Anak : Aku tahu, Ibu..tapi aku tetap tidak mengerti!

Ibu : Kadang sesuatu tak butuh dimengerti, cukup engkau yakini...dan pegang itu sampai mati!


(Percakapan seorang calon ibu dengan calon anaknya)

Sabtu, 18 Oktober 2008

Video Klip Cerdas!

Pagi-pagi lihat video klip terbarunya Letto yg "Bunga di Malam Itu". Dalam hati berkata, "Awas, kalau sampai ada model cewek cantik yg dipuja-puja di video klip ini!" Dan syukurlah, sampai akhir lagu, tetap gak adaJ Prediksiku gak beda, Ini lagu untuk memuji-NYA. Lantunan kerinduan dan kebutuhan akan Tuhan. Dan sang sutradara memvisualisasikan itu dg cukup cerdas. Gak ada sisi agamis yg terlalu ditonjolkan, tapi tetap bisa terbaca nuansa religinya. Salut buat Letto & the video clip maker!

Malam itu lah malamku
Ketika aku bertemu denganmu
Dalam hati ku tersedu
Tanganku tergenggam menahan haru
Mataku tak lepas darimu
Walaupun ku sendiri ragu

Bunga menebar sejuk wewangian malam itu
Ku tak mampu menahan rasa yang tak menentu
Lalu muncullah rasa di dalam benakku
Ku tak pantas memandangi wajahmu

Rindu itu belum hilang
Walau pertemuan itu terkenang
Dalam hatiku berdoa
Jangan sampai aku pernah terlupa

PadaMu penjaga hidupku, Tak pernah meninggalkan aku.

Selasa, 07 Oktober 2008

SIMBOK

Sore tadi, Simbok meninggal. Di hari kedua Lebaran, 1429 H. Saat semua anak, mantu, cucu dan buyutnya berkumpul. Mungkin, ini hadiah Gusti Allah untuk Simbok, bisa pergi dg dihantarkan oleh semua keturunannya.

Kata Paklik, usia Simbok 87 tahun. Itu pun hanya perkiraan, dari hasil menambahkan tiga tahun lebih tua dari usia adik Simbok yang sudah meninggal lebih dulu, 40 hari yang lalu. Simbok memang tak pernah tau, kapan tepatnya ia dilahirkan. Mungkin bagi orang tua Simbok (mbah buyutku), dan bagi Simbok sendiri, mengingat tanggal kelahiran itu tidak penting. Jadi, jangan pernah tanya juga, apakah Simbok pernah meniup lilin di atas kue tart ulang tahun:)
Tapi anehnya, Simbok tak pernah lupa untuk membuatkan bubur merah putih dan beberapa bahan sesaji disaat neptu hari kelahiran anak atau cucunya. Kok bisa inget, ya?

"Aku duwe gulo enak! Gulone kuning, krenyes-krenyes. Lha gae wis tak cuil-cuil nggo kowe!"
Selalu itu yg ‘dipamerkan’ Simbok, kalau aku berkunjung ke rumahnya. Lalu, dengan girang aku ke pawon (dapur) mengambil potongan2 gula jawa yg dimaksud tadi. Sambil senyum2, Simbok memperhatikanku mengunyah gulanya. Lalu ia akan mulai memujiku, "Kowe kok, tambah ayu saiki?" "Yo, sopo sik, ta..simbahe..." Jawabku sambil menggodanya. "Hayah! Hehehe...." Selalu itu tanggapan Simbok, sambil senyum menjep, ‘nyuil’ daguku dan berlalu untuk melakukan aktivitas lagi.

Dan pada akhirnya, semua yang hidup akan mati...
Hari ini Simbok, esok entah siapa lagi. Maut adalah hal terdekat kita. Sayangnya, kita sering lupa. Sayangnya, kita sering menganggap remeh, apa yang akan terjadi setelah mati. Sayangnya, kita sering merasa yakin akan bisa menjawab tanya; Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Dan Apa agamamu? Sayangnya, kita sering terlalu percaya diri, bahwa kalau sudah berbuat baik, surgalah yang menanti. Kita lupa, bahwa ridho Allah adalah kunci penentu 'pintu' mana yang akan kita masuki.
Semoga Allah ridho sama Simbok...semoga Allah sayang sama Simbok...

"Jika surga dan neraka tak pernah ada, apakah kita akan tetap bersujud kepada-NYA?"

Tuhan Maha Adil, diciptakan-NYA surga dan neraka sebagai balasan yang adil, seadil-adilnya untuk perbuatan manusia di dunia. Untuk keadilan yang mungkin tak kita dapatkan di dunia. DIA Maha Mengetahui . Dia Maha Tahu, bahwa di bumi ini, tidak semua orang mendapatkan keadilan. Jadi, tidak usah risau jika hukuman untuk para koruptor di bumi ini hanya sekian bulan saja. Tidak perlu nekat, jika perbuatan baik kita diaku oleh orang lain. Tidak perlu sewot, jika maling motor keburu meninggal sebelum diadili. Akan ada pengadilan Sang Maha Adil. Setiap jiwa akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Tak ada yang menurunkan dosa, tak ada yang kembali untuk hidup ‘coba-coba’. Maka, bersiaplah untuk surga atau neraka!
Andaikan ego dan kebodohan tetap meng-ignore semua itu, yakinlah bahwa berterimakasih untuk semua ini pada-NYA adalah hal indah yang diingini jiwa.
Kagem Simbok, mugi-mugi, Gusti Allah pinaringan dalan ingkang padang, dipun ampuni dosane, dipun tampi amal lan ibadahe.
Innalillahi wa innaillaihiroji’un....

Jumat, 22 Agustus 2008

'RAHASIA' SURGA BUDJANA

Kemaren malem, aku n tim berkesempatan interview GIGI dan Ungu di studionya Uthe, tempat latihan mereka. Interview itu sendiri rencananya bakal ditayangkan sepaket dengan penayangan konser religi ‘Pintu Surga Mu’ di Trans TV. Singkatnya, setelah mengotak-atik list pertanyaan yg kebanyakan dibikin mamagaya (hihi..punten bu, baru tiba sehari sebelumnya, je... mamagaya memang partner yg oukey!), tercetuslah (halah) ide pertanyaan ini : “Apa arti Surga bagi masing2 dari kalian?”.
***
(Thomas-Arman-Budjana-Hendy)
(Pasha-Enda-Rowman-Oncy-Makki)

Sore itu, jadwalnya adalah seperti ini: Ungu latihan dulu - lalu break maghrib - interview band dengan kami (jd sekitar pk. 19.00 WIB) – latihan Ungu bareng GIGI. Tapi, namanya juga di Indonesia, jadwal berubah dikit atau waktu molor2 adalah hal yg biasa . Akhirnya, baru sekitar pk. 20.30 WIB, sesi interview dimulai, GIGI first. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan mamagaya, sementara aku ‘sibuk’ foto2 in mereka (huhu...siapa yg foto-in akuu??). Apalagi mamagaya wanti2 untuk ‘menjepretnya’ kapanpun itu, biar hasil fotonya natural dan terlihat bekerja sungguh2! (hahaha...).


(Eksis banget seeehhh?! :< )
Tibalah saatnya pertanyaan ttg ‘surga’. Thomas, menjawab. Arman menjawab. Budjana...pas dulu, dan dilemparkan ke Hendy. Lalu Hendy menjawab dan dibalikin lagi ke Budjana, hasilnya? Teteeup loh, Budjana gk mo jawab! Hehehe....
Yeah, man...i knew, its dificult for you. You has different answer, and wont to make some 'weird' or conflict, maybe? Padahal jawabannya ta tunggu2, loh! :)
Berbeda pandangan kan gak apa2, kita punya pilihan utk bertoleransi, bukan? :)

Jadi, bagaimanakah surga itu, Bli Budjana?
***
Saat kerja aku teringat pada sebuah diskusi antara aku dan temanku yang beda agama. Namanya Yohannes. Saat itu kita baru saja selesai makan malam bersama di kampus dan tiba-tiba dia menanyakan sebuah pertanyaan tentang perbedaan agama kita.

Yohannes : Yan, menurutku agama islam itu bagus, tapi gimana ya caranya aku tau kalo agama Islam itu agama yang benar? sedangkan untuk belajar tentang agama Islam aja aku males banget, dan kalau ketahuan orangtuaku bisa gawat tuh.

Dian : Mmm... Nes, kamu tau gak agama itu menjawab apa?

Yohannes : Apaan?

Dian : Salah satu yang dijawab agama itu khan keberadaan kita setelah kita meninggal, kalau kata agama Islam itu nanti abis kamu meninggal kamu akan didatangi 2 malaikat, kalau kata agama kristen itu nanti abis kamu meninggal kamu akan diampuni Tuhan Yesus, kalau kata agama budha itu nanti abis kamu meninggal kamu akan bereinkarnasi, dan sebagainya.

Yohannes : Jadi maksud kamu apa? kayaknya belum menjawab deh.

Dian : Maksudkuuu... kalau males belajar tentang agama Islam, tunggu aja sampai kamu meninggal, terus lihat agama mana yang bener, jika kamu didatangi 2 malaikat, maka Islam yang bener, jika kamu diampuni Tuhan Yesus, maka Kristen yang bener, jika kamu bereinkarnasi, maka Budha yang bener.

Yohannes : Waduh yan, kalo nunggu aku meninggal udah telat donk, ada cara lain?

Dian : Ada, kamu tanya orang yang bangun dari kematian, kalau ada ya, atau kamu pelajari aja agama Islam, mana yang lebih gampang? :D

(Diambil dari blognya Dianmaladi)

Jumat, 27 Juni 2008

'PAPAN TULIS DI LANGIT'

Di akhir postingan ‘Pencari Tuhan’ aku bilang kalau kapan2 mau ngomongin soal ‘papan tulis’ yang dimaksud oleh motivator di The Secret.

Aku yakin semua orang juga tau apa yang dimaksud oleh motivator itu dengan ‘papan tulis’, yaitu ‘takdir’ yang menuliskan berbagai hal ‘rencana’ tentang si manusia selama di dunia. Awalnya aku juga selalu berpikir seperti itu, bahwa semua ini SUDAH ada yang mengatur dan menentukan. Tapi ternyata Tuhan itu demokratis. Ia memberikan hak pada manusia untuk mengubahnya jika mau. Tentu saja semua tak akan ‘lepas’ dari pengetahuan dan kehendak-NYA. Loh kok, muter2 gini? Hehe.. Jadi mudahnya adalah kita hanya bertanggung jawab pada wilayah ‘kekuasaan’ kita sbg manusia saja. Kita gak perlu tanggung jawab pada hal2 yang menyangkut eksistensi Tuhan dalam Penciptaan, misal lahir dengan rambut kriwil, gigi tonggos atau kulit hitam. Tuhan gak akan minta pertanggungjawaban kita akan hal2 itu, kok.

Sebenarnya, saat kita bilang, Tuhan SUDAH menuliskan segalanya, maka kita telah membuat Tuhan ada dalam waktu. Ini gak sesuai dengan sifat Tuhan. Jadi kita yang terlalu dangkal mengartikan. Trus gimana? Hemm…bingung jg ya, mengartikan sebuah ‘pengetahuan’ yang tak bisa terkena konsep waktu, sementara kita ada di dalam itu...
Aku hanya tahu, bahwa yang kulakukan tak pernah keluar dari pengetahuan-NYA, takdir-NYA. Semua usaha dan kerja kerasku ‘mengubah takdir’ adalah juga takdir itu sendiri. Mungkin akan lebih bijak kalau kita mengambil hikmahnya saja, bahwa diri ini tak sendiri, ada Tuhan yang melindungi, mengawasi, mengarahkan dan mewujudkan keinginan kita dengan segala ke-Maha Tahu-an NYA. Kita ada bukan karena kebetulan saja. Dengan begitu kita akan jadi manusia yang lebih hati2, bertanggung jawab dan bersemangat dalam hidup! Amiin...:)
***
Melinda, PA ku yang handal itu, barusan menangis. Bukan tangisan sedih, melainkan bahagia...pengajuan beasiswanya ke Dikti diterima, so...dia akan melanjutkan study ke Australi. Congrat's ya, Mel!;) Bikin aku semangat untuk sekolah lagiii!! hehe...

Uniknya, baru semalam kami ngobrol ttg hal ini. Mengobrolkan ttg pengumuman beasiswanya yg tak kunjung ada, dan harapannya yg hampir sirna. Obrolan jg bercampur dg kenyataan program kami yang harus udahan 3 epidode lagi, dan kami baru saja selesai shooting episode terakhir. Saat itu aku yg 'lebih tua' ini (huhuhu...) bilang ke dia, kira2 seperti ini, "santai aja, Mel, pasti ada 'sesuatu' di balik semua ini..mungkin kamu ketrima beasiswa, aku ke luar negeri juga, Icha jadi ke tim research...jadi kita sedang gak punya beban, karena program ini udah selesai..."

Dan memang seperti itulah cara kerja-NYA..., mengatur jalan kita, melapangkan urusan2 kita, mempersiapkan diri kita, dan menghadirkan sesuatu dg tak terduga. Saat semua terasa tak 'bergerak' kemana-mana, saat kita mengumpat dg berbagai rasa, DIA mewujudkan asa dg sempurna. Semua memang indah pada waktunya! Untungnya, kita diberi hak untuk mengupayakan 'tulisan di papan tulis' itu indah, seindah indahnya!!! :)

Senin, 09 Juni 2008

'REINKARNASI' MALAM INI

Reinkarnasi

Balancing…berpasangan….semua seperti itu di dunia ini. Maka, ada awal – ada akhir. Lalu bagaimana dengan reinkarnasi?

Reinkarnasi dipercaya sebagai ‘jalan’ bagi jiwa seseorang yang belum layak untuk mencapai ‘kesempurnaan’ utk memperbaiki diri dengan menempati badan kasar yang lain (note : gak Cuma dari manusia ke manusia, tp bisa ke tumbuhan, hewan, atau makhluk yg lebih ’rendah’ daripada manusia). Setelah ‘bersih’ dan dianggap layak, maka jiwanya bisa ‘mencapai’ moksa. Singkatnya seperti itu yang diyakini oleh teman2ku yg beragama Hindu.

Jujur, aku belum bisa menerima ‘teori’ itu. Maaf sebelumnya untuk yang berbeda pandangan dengan tulisan ini.
Menurutku, setiap jiwa bertanggung jawab atas dirinya, nggak ada ’dosa turunan’. Lalu, mengapa harus ‘dibawa’ ke generasi2 berikutnya untuk ‘menebus’ kesalahan di masa lampau? Kasian dunks! Apalagi kl ‘menjelma’ jadi tumbuhan or hewan. Lagi pula, kalau jiwa2 itu ber-reinkarnasi, knp manusia tambah banyak? My lovely friend, Inten, said : "...itulah mengapa pohon dan hewan makin dikit.." Hehehe....sebentar..sebentarr..jeng...

’Komponen’ hewan & tumbuhan itu berbeda dg manusia. ’Komponen’ di sini maksudku gak cuma secara fisik loh. Bukan hanya secara badan kasar, tapi jg badan halus (jiwa, karakter). Kalau reinkarnasi sering diibaratkan dengan seorang yang ganti2 baju, dimana si orang tetaplah sama, maka akan ’tidak cocok’ dg kasus manusia ’jadi’ hewan or tumbuhan tadi.
Look at this :
Jiwa manusia yg tetap = si orang yg tetap tadi.
Hewan / tumbuhan / another thing yg berubah2 or 'mewujud' = baju-baju yg ganti2 tadi.
Apakah saat ada manusia 'menjadi' hewan or tumbuhan ia tetap memiliki jiwa manusia? Kemampuan rohani as human? Ternyata tidak. Hewan & tumbuhan nggak punya akal dan nafsu, mereka hanya punya insting. Lalu, bagaimana kelakuan mereka (hewan-tumbuhan tsb) bisa dinilai dan disejajarkan dengan kelakuan manusia ’baik’ lainnya hingga layak mencapai moksa, secara mereka gak ’terganggu’ dengan godaan nafsu? Apes manusianya doongs...
Menurutku kok malah teori reinkarnasi ini gak dewasa ya. Gak menggugah semangat untuk jadi ‘orang baik2’... lha wong pasti ada kesempatan2 lain lagi...berasa kurang tanggung jawab aja...ini menurutku loohh!! (Yaaa..soale kalo ndak jadi pohon padi, mungkin bisa jadi lalat nakal yang hinggap di tangan mas-mas ganteng...lumayan hehehe…piss ah!!).

Then, bagaimana dengan dejavu?

Seorang teman pernah bilang bahwa reinkarnasi bisa ‘menjawab’ fenomena dejavu. Mungkin maksudnya adalah saat kita merasa pernah berada dalam kondisi dan situasi yang sama, itu menjadi bukti bahwa jiwa ini pernah mengalami hidup sebelumnya. Pertanyaanku adalah, kalau reinkarnasi dijadikan sebagai ‘alat’ untuk memperbaiki diri, mengapa harus mengulang satu keadaan-kondisi-situasi yang sama? Kalau dejavunya lagi memperkosa monyet gimana?

Menurutku, Fenomena dejavu adalah ‘pelajaran Tuhan’ yang ditunjukkan ke manusia bahwa tak terkena fenomena ruang-waktu bagi-NYA itu sangat mungkin sekali! Coba inget2 lagi saat kamu mengalami dejavu. Pada saat itu terjadi, kamu akan mengalami 3 waktu sekaligus : pernah mengalami - sedang (karena hal itu terjadi saat itu juga dihadapanmu) - dan tau apa yang akan terjadi sesaat kemudian dalam peristiwa itu (seperti sedang mengamati frame demi frame dalam rangkaian negative film, right?). Lalu kamu pasti akan merasa bahwa ‘waktu’ menjadi sangat tidak berarti, coz u knew everything. See?!

***
Hemm....malam ini aku ingin 'reinkarnasi' jadi layar monitor editing...biar dilihat terus olehmu! huahahaha..gariiiiingggss!! :p

Selasa, 22 April 2008

PENCARI TUHAN

Apa benar, Tuhan itu adalah diri kita sendiri?

***
Ada kalimat-kalimat para motivator yang ‘menggelitik’ perhatianku saat nonton DVD ‘The Secret’ :

Apa yang menciptakan dunia?
Jawab ahli Fisika kwantum : Energi.
Deskripsikan tentang energi!
Energi : sesuatu yang tak dapat diciptakan dan dimusnahkan, sudah ada, akan selalu ada, segala hal yang sudah pernah ada, selalu ada, selalu berpindah ke dalam bentuk, melalui bentuk, dan keluar dari bentuk.

Kalau ditanyakan ke ahli Teologi,
Apa yang menciptakan dunia?
Jawabnya : Tuhan
Deskripsikan tentang Tuhan?
Tuhan : sesuatu yang tak dapat diciptakan dan dimusnahkan, sudah ada, akan selalu ada, segala hal yang sudah pernah ada, selalu ada, selalu berpindah ke dalam bentuk, melalui bentuk, dan keluar dari bentuk. Sama pengertiannya, hanya berbeda istilahnya.
…Anda adalah perpanjangan dari energi. Tapi tubuh anda telah memisahkannya dari bagian utamanya, dari bagian darimana sesungguhnya anda berasal. Anda adalah sumber energi, anda adalah makhluk abadi, anda adalah kekuatan Tuhan. Anda adalah yang disebut Tuhan.

Keningku berkerut…..

Ada lagi penjelasan mereka yang juga ‘menggelitik’ perhatianku :

“Tidak ada papan tulis di langit yang menuliskan maksud dan tujuan hidup anda.Tidak ada papan tulis yang misal bertuliskan Neale Donald, handsome guy, 21 years old..bla..bla..bla. Tidak pernah ada! Jadi tujuan hidup anda adalah tujuan yang anda tentukan sendiri. Kehidupan anda adalah seperti yang anda ciptakan sendiri, dan tak seorang pun yang akan mengadilinya, sekarang maupun selamanya. Jadi lakukan apa yang membuat anda merasa ‘baik’ dan bahagia. Ikutilah kebahagiaan anda.”

***

Ada bait-bait lagunya Letto; ”Memiliki Kehilangan” yang menarik untuk disimak :

Tak mampu melepasnya walau sudah tak ada
Hatimu tetap merasa masih memilih dia
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya

Pernahkah kau mengira kalau dia kan sirna
Walau kau tak percaya dengan sepenuh jiwa
Rasa kehilangan hanya akan ada
Jika kau pernah merasa memilikinya

(" You don't know what you have got 'til it's gone " ).


Kalimat lagu yang aku bold di atas membawaku pada ingatan sekitar 3 tahun yang lalu, saat mendebatkan konsep Tuhan bersama seseorang yang darinya aku banyak belajar. Kalimat itu juga melayangkanku pada waktu beberapa bulan lalu saat membaca sebuah buku yang membahas Tuhan secara matematis. Terakhir, tentu saja pada isi DVD ’The Secret’ yang aku putar minggu lalu, yang lagi-lagi membawaku pada pertanyaan2 akan Tuhan dan aku.

Menarik memang, kalau lagi-lagi kita disadarkan pada realita bahwa tubuh ini andai dilihat lebih dalam sebenarnya adalah kumpulan energi. Tak ada lagi daging, tulang, darah, tubuh gagah, cantik atau tampan. Jadi senyum kecut nih, terkadang kita terlalu mencintai seseorang atau sesuatu dengan sangatnya, padahal sesungguhnya ia tak ada. Fana.
Tapi, kita ternyata lebih milih untuk ’memiliki kehilangan’ daripada sesuatu yang sejatinya ada, yaitu Tuhan. Tapi aarggghh...susah sekali merasakan itu...:(

***

…. memikirkan bahwa semua ini adalah satu. ‘Bahan’ yang satu. Ditulis oleh tangan yang satu, aku setuju. Tapi apakah lantas bahan yang satu = kita? Yang menulis itu = kita? Energi = Tuhan? Kita = Energi? Kita = Tuhan?? Berfikir…berfikir…berfikir…

***

Tuhan memang sudah ada, akan selalu ada, tidak diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, TAPI BUKAN selalu berpindah ke dalam bentuk, melalui bentuk, dan keluar dari bentuk, karena Tuhan tidak berada dalam konteks ruang dan waktu. IA melintasi kedua hal itu. Ruang dan waktu adalah ciptaan-NYA. TUHAN ITU EKSKLUSIF.

Ada penjelasan mudah dari Idrus Shahab yang pengen aku share disini :
- Alam ini berasal dari ketiadaan mutlak, maka harus ada yang memunculkannya (menciptakannya). Alam ini nantinya akan lenyap menjadi ketiadaan mutlak, maka harus ada yang melenyapkannya.

- Tak mungkin Pencipta adalah alam itu sendiri (berimpit), sebab itu berarti bahwa alam menciptakan alam itu sendiri dari ketiadaan mutlak. Bila seperti itu, berarti sebelum alam ini ada, Pencipta pun tidak ada. Tidak mungkin juga alam itu melenyapkan dirinya sendiri, karena berarti alam melenyapkan dirinya sendiri menjadi ketiadaan mutlak.

- Mustahil juga jika Pencipta alam ini berada di dalam alam (bagian dari alam), karena berarti sebelum alam tercipta, Pencipta pun belum ada (sebab IA bagian dari alam). Mustahil pula Pelenyap alam ada di dalam alam, yang berarti kalau sesudah alam dilenyapkan-NYA, IA pun menjadi lenyap pula (sebab IA bagian dari alam).

- Tak mungkin sebagian ’tubuh’ Sang Pencipta itu adalah alam ini atau bagian dari alam ini. Karena bila alam ini atau bagian alam ini merupakan sebagian ’tubuh’ Sang Pencipta, berarti sebelum alam dicipta, Sang Pencipta tak mempunyai sebagian dari ’tubuhnya’ itu. Karenanya, Yang mencipta itu eksklusif dari sebagian ’tubuh’ tsb. Dengan demikian sebagian ’tubuh’ itu sama sekali bukan bagian dari Sang Pencipta.

Hemm...masuk akal kan? :)

Motivator2 itu bilang kalau kita adalah makhluk abadi. Karena kita adalah kumpulan energi dan energi itu tak mungkin diciptakan – tak mungkin dimusnahkan, maka bisa dibilang bahwa energi itu abadi. Alam juga adalah energi, maka alam juga abadi.

Let see, apakah hal itu benar adanya :

Waktu saat ini tak mungkin sama dengan waktu satu jam yang lalu Kalau waktu saat ini = waktu sejam yang lalu, maka harusnya status alam saat ini = status alam sejam yang lalu, dan itu mustahil. Kan dibilang bahwa Energi hanya bisa berubah, maka alam juga selalu berubah (tak mungkin alam ini tak melakukan proses alami apapun selama sejam!). Maka dari itu WAKTU tak sedang, tak pernah dan tak akan infinite (tak terbatas / abadi)!

***

Para motivator2 itu, terlalu mengagungkan kekuatan Low of attraction yang kata mereka bersumber pada setiap diri. Bagus sih, untuk menambah rasa pe de, tapi aneh juga. Bayangkan hal ini : misalnya Ariel Peterpan cinta mati sama aku (ngarep! Hehe). Dia mengerahkan segala upaya untuk mendapatkan aku (hahaha...senangnyaa!!). Dia selalu siap tampil di tv tempat aku kerja, dia selalu menelponku, dia selalu minta aku yang jadi Creative programnya kalau lagi pentas, dll. Dengan kekuatan Low of attraction harusnya keinginan Ariel itu terwujud dong?! Nah, padahal in the same time aku lagi naksir berat sama si Mr. Aku berupaya keras untuk dapetin si Mr ini, seperti halnya yang Ariel lakukan untukku. Kira-kira yang bakal ‘dibela’ atau ‘dipenuhi’ oleh si Low of attraction itu yang mana, keinginanku atau keinginan Ariel?

Kalau kata Sang Alkemis, ‘saat kamu menginginkan sesuatu maka semesta alam akan membantumu’. Gak jauh beda lah sama yang dibilang motivator2 itu.
Ini bagus, cuma hati-hati aja, jangan sampai ke-aku-an membuat kita sombong dan gak realistis! Padahal bersikap realistis itu susah! (hiks..hiks...curhat colongan....)
Segala yang hanya berporos pada diri sendiri kadang memunculkan sifat egois. Ada beda antara manusia yang beragama dan yang beretika. Sama2 bersikap baik, tapi kategori yang kedua seringkali ’meninggalkan’ Tuhan dalam setiap hal yang dilakukannya. Seolah semua kebaikan bersumber pada dirinya, atas upayanya. Perasaan ini ’tipis’...jadi, mari waspada biar gak punya sifat sombong nan berbahaya..:))

***

Kapan2 kita sharing tentang "papan tulis" yang dimaksud motivator di atas ya.....