Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2013

MY FIRST BOOK

29 Juni 2012, Grand Indonesia
Itu adalah kali pertama aku ketemu sama Penerbit Mizan. Rasanya susah digambarkan… Antara grogi, happy, dan excited! :D. Ada mba Dhias dan mas Peter yang sudah lebih awal aku ‘kenal’ lewat twitter. Obrolannya santai ternyata. Mbak dan mas dari Penerbit Mizan baik2 semua hehe… Inti pertemuan itu adalah penjelasan apa yang harus aku lakukan sebagai penulis 2 di buku yang akan aku bikin bersama Tjokde, sekaligus ngasih draft kontrak kerjasama ;)
***
My first book with Tjokde :')
My first book with Tjokde :')
Menulis buku itu impianku sejak lama. Well, I love writing… makanya sampe punya beberapa blog untuk menyalurkan hobiku yang satu itu. Allah memang Maha Baik, meskipun harus melewati ‘jalan panjang’,  pada akhirnya mimpi itu terwujud dan diberi kemudahan saat mewujudkannya. Seperti yang pernah kubilang, semesta mencatat mimpimu :)

Kalau dirunut, ceritanya panjang… :)

Ini nggak bisa lepas dari program Nature Life yang kupegang. Nggak bisa lepas juga dari keyakinan jeng Christin yang mempercayakan pembuatan program itu padaku, hingga aku kenal Tjokde. Lalu Tjokde ditawari bikin buku, dan mengajakku terlibat dalam penulisannya.
***
Benar seribu persen kalau ada yang bilang, menulis itu butuh mood dan fokus. Aku lupa tepatnya, tapi kira-kira sekitar empat bulan aku berusaha fokus total nulis buku itu. Hari Sabtu-Minggu dan hari libur sengaja nggak pernah kemana-mana biar bisa nulis. Apalagi materi yang kutulis bukan hal yang sepele, melainkan hal serius karena menyangkut kesehatan dan nyawa orang. Belum lagi tektokan sama Tjokde yang tiap hari sibuk dengan pasien2nya di Bali, juga takes time. Kadang, mood nulisku lagi bagus, Tjokde pas nggak ngasih bahan untuk kutulis. Kadang, kerjaanku lagi banyak, Tjokde dengan lancar ngasih bahan dan tulisan yang harus kususun, hingga jadinya malah numpuk pe er ku. Tantangan terbesarnya ya, memang jarak itu tadi. Jadi tektokan cuma by email, sms, bbm, atau telepon. Kadang nggak bisa langsung dapat jawaban kalau ada hal yang perlu aku konfirmasi ulang ke Tjokde. Harus nunggu beberapa jam, bahkan hari. Tapi kadang juga cepet. Yaaa..gitu deh! Hehe..

Di awal penulisan, untungnya Tjokde pas ada jadwal ke Jakarta, jadi aku bisa langsung menyusun banyak pertanyaan untuk dia jawab, sebagai bahan tulisan. Biasanya kami memilih kedai kopi untuk diskusi dan menyusun materi tulisan. Biar kaya penulis2 yang keren itu laaah… maennya di kedai kopi! Hehehe…
Tjokde merekam penjelasannya soal penyakit di ipodku :)
Tjokde merekam penjelasannya soal penyakit di ipodku :)
'Rekaman' lagi di PS :)
'Rekaman' lagi di PS :)
Jawaban2 Tjokde aku rekam di BB atau ipod, trus nanti di rumah aku susun. Gampang sih, yang susah itu kalau Tjokde coba menuangkan pemikirannya dengan bahasa Indonesia tapi susunannya salah dan punya arti beda dari yang dimaksud. Jadi aku harus benar2 mencernanya dengan baik, trus re-check ke dia :p

Sudah tidak tahap 'merekam' lagi.. :) - Bali
Sudah tidak tahap 'merekam' lagi.. :) - Bali
Sempat juga ketika aku ada shooting ke Bali, Tjokde mampir ketemuan untuk membahas beberapa hal dalam (materi) buku kami. Pokoknya kesempatan apapun yang bisa digunakan untuk nyelesein buku, hajarrr!! :D

Last meeting, sebelum tulisan diserahkan ke penerbit - Anomali lagiii ;)
Last meeting, sebelum tulisan diserahkan ke penerbit - Anomali lagiii ;)
***
Hal-hal inti untuk buku sudah tersusun, tinggal mencari printilannya, seperti foto (mostly dari aku, hasil jeprat-jepret kalo lagi shooting hehe), sumber-sumber data pelengkap, dll. Hingga akhirnya di bulan Januari akhir atau Februari awal, materi buku kami serahkan ke penerbit (editor, namanya mba Dhias). Mulai dari situ, tektokan terjadi antara editor buku dan kami (aku & Tjokde). Ada beberapa hal yang harus dibetulkan, dikurangi, atau ditambahi. Mba Dhias akan email hal-hal yang dimaksud, dan kami pun membalasnya lewat email. Dan itu nggak secepat/semudah yang dibayangkan, karena balik lagi ke soal jarak dan waktu… Kadang mba Dhias nanya hari Senin, aku dan Tjokde baru sempat cek hari Rabu, trus ngasih jawaban Senin di minggu berikutnya…hehe… Jadi, ya agak lama. Maapkeun kami, mba Dhias… ;)

Soal foto juga begitu, ada yang masih kurang dan aku butuh waktu untuk ngelengkapinnya. Sampai akhirnya di bulan Oktober 2013, buku itu terbit :). Butuh waktu satu tahun tiga bulan, hingga akhirnya buku ‘Sehat Holistik Secara Alami’ ada di rak-rak toko buku kesayangan pemirsa… :’)
***

Kalau bicara tantangan, yang paling berat sebenarnya membuat materi ‘berat’ jadi terasa ringan dan mudah dipahami dalam bentuk tulisan. Isu kesehatan itu serius dan ‘berat’, ditambah judul buku yang kesannya seriuuuusss banget. But, believe me, isi bukunya cerna-able kok ;) Kalau sampe ada yang susah mencerna isi buku, berarti aku gagal sebagai penulis 2, soalnya itu tugasku; mempermudah penjelasan Tjokde dalam bahasa/kalimat yang menarik dan tidak membosankan ke buku.
***

Yang paling aku suka dari buku ini adalah adanya penjelasan logis berurutan yang coba dihadirkan untuk membahas suatu penyakit atau pengobatan. Misalnya begini, kalau kita pusing tujuh keliling (vertigo) atau pusingnya di bagian depan dan atas kepala, artinya fungsi ginjal kita terganggu. Kenapa ginjal bisa terganggu? Apa akibatnya kalau fungsi ginjal terganggu? Itu ada penjelasannya. Fungsi ginjal yg terganggu bisa bikin aliran darah ke otak tidak lancar. Yang bikin tidak lancar bisa karena kita kurang cairan. Nah, apa yang bisa melancarkannya? Pastilah bahan2 yang punya kemampuan menstimulasi aliran darah ke otak. Lalu ada ramuan herbal yang dicontohkan dan juga obat homeopathy yang disarankan. Di bagian lain buku, ada juga informasi soal organ tubuh (termasuk ginjal), cara kerja dan fungsinya, serta makanan2 apa yang ‘baik’ untuk organ tsb. Jadi kalau kita udah tau sakitnya di bagian mana, penyebab sakitnya apa, akan dengan mudah menelusuri obatnya. Kalau masih bingung dan ragu, sebaiknya konsultasi sama ahlinya ;)

Buku ini juga mengenalkan hal baru, menurutku, yaitu tentang Homeopathy. Jujur, istilah itu aja baru aku tau saat mau bikin program Nature Life. Padahal pengobatan ini populer sekali di barat sana sampai sekarang. Setidaknya, ini jadi pengetahuan baru buat kita dan tambahan info untuk mereka yang sedang mencari pengobatan alternatif untuk penyakitnya. Jangan menyerah, brooo! :)

Pada intinya, buku ini ngajak kita untuk hidup sehat; sehat makanannya, gaya hidupnya, dan lingkungannya. Buku ini ngasih ‘kepercayaan diri’ penuh pada kita untuk ‘mengobati diri sendiri’ karena sebenarnya kita bisa!

***
Inilah ‘jawaban’ dari penolakan2ku saat itu, kalau diajak hengot sabtu-minggu sama temen2. Maafkan yaaa… J. Emang cuma beberapa orang yang tahu kalau aku (dan Tjokde) sedang menulis buku, saat itu. Sengaja sih, biar jadi surprise, sekaligus menghindari pertanyaan2 dan ketakutan2 kalau2 ada halangan di tengah jalan saat penulisan. Tapi Alhamdulillah semua lancar dan akhirnya bisa terbit :).
***

Nggak ada hal muluk yang aku harapkan selain buku ini bisa bermanfaat buat yang membacanya. Nggak ada hal yang lebih membanggakan selain melihat namaku akhirnya tercantum di salah satu buku, di antara buku2 lain dalam rak toko buku :). Meskipun bukan buku sendiri(an), tapi aku hepi sekali… ini jalan yang dikasih Allah, biar aku kenal penerbit, tau gimana rule menulis buku dan diterbitin, tau apa2 yang harus disiapkan dan dilakukan saat menulis buku… pokoknya jadi pengalaman luar biasa lah. Priceless!! :)

***
Pada akhirnya, aku cuma bisa bilang Alhamdulillah, terimakasih nggak putus2 sama Allah dan semua orang yang selalu ngasih suport positif buatku mewujudkan setiap mimpi, termasuk menulis buku. Hey, I make it happen! ;)


Senin, 17 September 2012

SRIYANI




Inilah kota yang tak pernah tidur itu, Jakarta.
Saat yang mengaji subuh ini belum selesai, sebagian penduduknya yang lain sudah bersiap ke tempat kerja. Seperti diriku yang tengah menyusuri gang-gang sempit perkampungan tepi kota ini untuk mencapai jalan raya dan menunggu angkot di sana.

Satu-persatu penghuni rumah-rumah petakan yang kulewati, keluar dan ikut menyusuri jalanan sepertiku. Tak ada sapa. Pikiran kami terlalu sibuk berdoa agar hari ini tidak terlalu macet, tidak telat tiba di tempat kerja, dan bisa kembali ke rumah sebelum larut malam untuk menebus kantuk yang masih menyisa di mata. Sesekali terdengar suara tangis anak kecil. Mungkin baru saja bangun dan tak mendapati ibu di sampingnya karena sedang menyiapkan sarapan di dapur atau ... ya, sudah berangkat kerja sepertiku.

Mbak Ani, pedagang sayur keliling yang kukenal, kulihat tengah menyiapkan dagangannya, menyusun satu-persatu sayuran yang dibeli dari pasar dini hari tadi. Pedagang sayur keliling ini sangat membantu ibu-ibu yang tak sempat ke pasar atau kekurangan bumbu di tengah-tengah memasak.

“Berangkat kerja, Sri?” Tanya mbak Ani yang sudah melihatku dari jauh.
“Iya, mbak. Mariii..” Jawabku sambil melambatkan jalannya kaki.
“Monggo..monggo…” Mbak Ani melanjutkan menyusun dagangannya.

Di tepi jalan raya, sudah berjajar orang-orang sepertiku yang juga akan berangkat kerja. Sisanya adalah para pelajar yang sekolahnya jauh atau mungkin harus masuk di jam ke-nol. Angkot - angkot dengan jurusan berbeda silih berganti lewat di depanku. Lumayan penuh juga, angkot-angkot itu, padahal langit masih gelap. Mungkin karena ini hari Senin, setiap orang berburu cepat ke tempat aktivitasnya.
Serombongan keluarga pemulung dengan gerobaknya melintas. Di ujung jalan, petugas penyapu jalan raya yang berseragam orange tengah memindahkan sampah yang berhasil dikumpulkannya, ke bak sampah yang  ia bawa. Di seberang jalan, antrian pembeli nasi uduk juga panjang. Aku baru ingat kalau belum sarapan pagi.

Angkot yang kunanti tiba. Bergegas aku naik dan mendapat tempat duduk di pojok kanan belakang. Kuperhatikan penumpang yang lain, rata-rata memejamkan mata. Bisa tidur sejenak dalam perjalanan memang lumayan. Hebatnya, kami para penumpang angkutan umum seperti ini seperti diberi radar untuk selalu terbangun ketika akan sampai tempat tujuan.

Langit mulai terang saat angkotku memasuki terminal paling padat di Jakarta ini, Pulo Gadung. Buru-buru aku turun dan mengejar antrian bis kota terdepan yang sudah perlahan jalan. Soalnya kalau sampai ketinggalan, aku harus menunggu lama di bis kota berikutnya, yang baru akan berangkat jika tempat duduk penumpang terisi penuh. Itu bisa memakan waktu setengah jam lebih. Bisa terlambat aku nanti. Makanya, jadi penumpang kendaraan umum seperti ini harus gesit!

Lagi-lagi semua penumpang yang ada memejamkan mata. Yeah…mendapat tempat duduk di angkutan umum dan bisa tidur sejenak dalam perjalanan itu surga! Aku pun melakukan hal yang sama. Sayup-sayup kudengar pengamen cilik menyanyikan lagu dari band-band yang sedang hits saat ini.

“Mampang…Mampang!”
Kernet bis berteriak untuk memberitahu posisi kami, para penumpangnya, saat ini. Hmm.. sebentar lagi giliranku turun. Kukeluarkan ongkos pas dari saku tas bagian depan yang memang sudah kusiapkan sejak dari rumah. Membuka-buka dompet di atas kendaraan umum bisa mengundang pencopet, makanya tak pernah kulakukan.

“Kiri, bang!”
Angkot menepi dan melambat namun tak sampai berhenti. Aku pun melompat turun.

Inilah kantorku tercinta. Gedung berlantai duapuluh lima yang terkenal se-antero Jakarta. Bangga sekali aku menjadi salah satu yang bekerja di dalamnya. Jam tujuh tepat aku tiba dan mengisi daftar hadir yang ada. Suasana masih lengang. Dua orang satpam berdiri di depan pintu kaca untuk memeriksa bawaan setiap orang yang masuk ke gedung ini. Sebelumnya, dua orang satpam yang lain juga sudah memeriksa di pintu gerbang kawasan gedung. Sejak aksi teror bom marak di negeri ini, pengawasan keamanan diperketat di mana-mana, termasuk di tempat kerjaku ini.

Seperti gedung-gedung perkantoran yang lain, tempat kerjaku ini juga ber-AC dan berpengharum ruangan yang menyemprot otomatis setiap sepuluh menit sekali. Dinginnya ruangan lebih dingin dari mol yang sering kudatangi kalau habis gajian. Makanya aku bersyukur sekali kerja di tempat ini karena tidak harus bekerja panas-panasan seperti tetanggaku yang jualan pakaian di pasar atau adikku yang menjadi pengantar makanan cepat saji dengan menggunakan motor. Orangtuaku juga bangga anak gadisnya bisa kerja di gedung bagus, terkenal, dan ber-AC seperti ini. Aku pernah mengajak mereka kemari saat hari libur, karena mereka penasaran dengan tempat kerja yang selalu kuceritakan wangi ini. Sepulangnya dari sini, mereka wanti-wanti agar aku bekerja dengan rajin, biar bosku sayang sama aku, dan memperpanjang masa kontrak kerja yang hanya berumur empat bulan saja. Oiya, satu lagi yang menyenangkan adalah gaji yang kuterima sebulan sekali itu langsung ditransfer ke rekeningku. Rekening itu dibuatkan oleh perusahaan tempatku kerja untuk mempermudah pembayaran gaji, katanya. Jadi, setiap bulan aku tinggal mengambil uang dengan kartu ATM yang baru pertama kalinya kumiliki. Rasanya keren sekali!

Aku bergegas ke ruang ganti untuk menukar pakaian yang kukenakan dengan seragam kerja. Sengaja aku memakai seragam jika sudah di kantor karena tak ingin seragamku basah oleh keringat dan bau asap kendaraan dalam perjalanan. Begitu juga dengan sandal yang kukenakan, kuganti dengan sepatu flat hitam yang kusimpan di belakang lemari ruang ganti. Tiap hari berlari mengejar angkutan umum tak akan membuat alas kaki tahan lama, makanya aku selalu mengenakan sandal saja, lalu menggantinya dengan sepatu, di kantor. Kupatut-patut diriku di kaca, memastikan kerapihan seragam yang kukenakan, seragam biru tua kebanggaan dengan tulisan namaku di saku depan; Sriyani, dan tulisan huruf kapital di punggung belakang atas untuk pekerjaanku; CLEANING SERVICE. Aku siap bekerja.

Kamis, 01 Maret 2012

Tentang Sebuah Cincin....

Suatu malam, di sebuah taman kota....


Langit sedang tak berbintang. Angin hangat menyapu sepasang muda-mudi yang hening sejak tadi. Keduanya sudah lama tak bersama... bertemu lagi pada kesempatan yang tak terduga. Dulu, mereka memiliki cinta....


Lelaki : "Apakah kau masih menyimpan cincin yang kuberikan untukmu?"

Perempuan : "Masih...."

Lelaki : "Bolehkah itu kuminta balik?"


Perempuan itu tercekat, tak menoleh ke lelakinya. Matanya memanas seketika. Desir jantungnya berdegup lebih cepat. Terbata dia berkata...


Perempuan : "Sure"

Keduanya diam. Lalu lelaki itu berkata perlahan...


Lelaki : "Karena itu kiss ring, kamu balikinnya juga pake kiss yaa... but don't worry, within 5 minutes akan kukembalikan lagi ke kamu..."

Perempuan : "Aaaaaa...... kamu ngerjain aku! Gak tau apa tadi jantungku hampir copot?"

Mata perempuan itu berkaca-kaca, wajahnya menghangat seketika. Ada senyum yang tak bisa disembunyikannya.

Lalu, lelaki itu merengkuh perempuannya...


Langit masih gelap, bintang masih tak terlihat.... Malam tetap berjalan dengan cerita berbeda dari setiap insan...

Sabtu, 26 November 2011

SUATU HARI, 10 TAHUN LAGI

Tahun 2021.


Usia kita sudah hampir setengah abad. Anak-anak kita sudah remaja. Tekhnologi semakin maju, gadget canggih dan internet menjadikan dunia ini tanpa batas privasi.
Anak kita, menemukan foto-fotomu dulu ketika bersama perempuan itu, perempuan selingkuhan saat aku jauh darimu.


Tanyanya, “Ibu, ini ayah kan? Di tahun 2011 aku sudah lahir kan? Kenapa ayah berfoto mesra dengan wanita yang bukan ibu? Ibu dimana saat itu?”


Menurutmu, apa yang harus aku katakan? Ayah yang senantiasa dipujanya memiliki masa lalu yang tak patut ditiru. Dulu, aku sudah memperingatkanmu untuk hati-hati….untuk tidak mengumbar sevulgar itu perbuatanmu dan memamerkannya di dunia maya.


Dulu, dengan sakit hati yang kusimpan, tetap kuterima engkau sebagai ayah dari anak-anakku. Tetap kuabdikan setiaku hanya untukmu. Aku yang menurutmu membosankan dan menyebalkan, tetap merawat anak-anakmu, anak-anak kita… tanpa sedikitpun mengurangi kasih sayang yang sepatutnya diberikan seorang ibu. Aku mencintaimu selalu, meski tak tau lagi harus bagaimana menunjukkannya. Aku mencintai anak-anak kita, hingga kujaga mereka sedemikian rupa. Tapi dunia terlalu sempit untuk bisa menyembunyikan masa lalu kita dari mereka....


Sabtu, 02 April 2011

LELAKI YANG MEMANGGILKU 'HUN'

Ini akan menjadi salah satu judul cerita, jika aku membuat buku kelak. Amiin...:)

***
Tak ada nama khusus untuknya. Sudah kucari-cari sebutan yang pas, tetap saja tak kutemukan.
Aku masih memanggilnya dengan 'kamu'. Sedang dia, memanggilku 'Hun'.

Honey, hunny, hunnieh....what ever it is, maksudnya adalah 'sayang'. Dia menyayangiku?
***

Lagi-lagi tak kutemukan jawab; mengapa kamu, mengapa aku, dan mengapa kita.
Cinta mewujud apa adanya, lewat kejujuran yang diteriakkan pagi sunyi.
Kita muncul dari chemistry yang tak sempat bertautan.
Kita terpisah, bertemu, terpisah, dan bertemu lagi pada hasrat yang tak pernah tertuntaskan.
Kita tak bisa beranjak kemana-mana, kawan.
Kita merajut RASA, disetiap kata yang terbaca...

Maafkan untuk kata 'rindu' yang tak kutiru dari bibirmu.
Aku tak ingin rindu itu keluar dari hatiku, dan tak memilikinya lagi.
Maafkan untuk sayang yang harus kusembunyikan.
Aku tak ingin sayangku habis dan tak bisa memberimu obrolan yang manis.

Biarlah cinta TETAP bermain di RUANGNYA.
Dalam imaji dan angan-angan kita.
Dalam impian dan tetap akan KUMIMPIKAN.
Biarlah ini ada, berjalan, lalu hilang.
Aku yakin, ini akan hilang!
Suatu hari pun, ini akan jadi kenangan.
Tapi hari ini, terimakasih telah memanggilku, 'hun' :)
***

Kusimpan catatan ini. You had been here, in one of my special heart's boxes.

Minggu, 13 Maret 2011

LELAKI YANG TERLAMBAT KUSAYANGI

Aku punya satu kakak laki-laki. Orangnya pendiam, tidak pernah minta macam2 sama ibu, dan lirih kalau bicara. Tapi entah mengapa, aku tidak menyukainya. Menurutku, anak lelaki wajib dibenci, meskipun kakak sendiri. Mungkin karena teman2 lelaki yg kukenal, nakal-nakal. Mereka sering menggangguku dan teman2 perempuanku jika kami sedang mainan. Mereka sering menarik kerudung kami jika sedang mengaji bersama. Mereka juga senang iseng, membunyikan petasan tiba2 di kelokan jalan kalau kami, anak2 perempuan, pulang sekolah. Aku benci laki2, termasuk kakakku sendiri!! Tapi, rasa itu berubah pada suatu hari...


Hujan turun semalaman. Jembatan penghubung ke desa sebelah terputus. Aku ada ujian di sekolah dan mau nggak mau harus masuk, tak boleh terlambat. Sekolahan kakakku berdekatan dg sekolahku. Aku kelas 4 SD, dia kelas 2 SMP. Kali itu, kami berangkat sekolah bersama. Kami tiba di tepi sungai, tak ada lagi jembatan. Aku memandangi air sungai yang mulai surut...juga sepatu putih yang baru kemarin kucuci.


Kakak : “Adel, sini aku gendong. Sepatumu nanti basah!”

Aku diam. Kalau ada temanku yang melihat, mau ditaruh mana mukaku??? Pasti malu sekali.

Kakak : “Ayolah...keburu telat kita!”


Kakakku yang sudah membuka sepatunya sendiri dan memasukkannya ke dalam tas, langsung menggendongku di pundaknya. Kami menyeberangi sungai dengan selamat. Kulihat jari2 kakinya memutih kedinginan. Tapi ia tak menghiraukannya dan langsung jalan di depanku. Tiba2 ada yang menggenang di mataku. Kakakku ini selalu menjemputku usai mengaji kalau hujan turun dan aku tak membawa payung. Dia juga yang mencarikan bambu hutan saat aku ada tugas prakarya dari sekolah. Dia selalu mengalah saat uang ibu hanya cukup untuk membelikan mainan untukku saja. Ah, aku malu dan merasa bersalah sekali. Kakakku baik, juga menyayangiku...dan aku baru menyadarinya hari ini....
***

(Cerita ini dibuat untyk 'tugas' kantor. Karena gak ada kabar berita, maka kuposting saja :p)

Jumat, 07 Januari 2011

KADO UNTUK DUA HARI LAGI


“Janji ya, bukanya dua hari lagi, tepat di tanggal jadian kita”
Aku mengangguk. Dia mengusap kepalaku dan mengecupnya cepat. Pesawat tujuan Jogja yang akan ditumpanginya segera berangkat. Kudekap kado kecil yang diberikannya. Aku akan membukanya dua hari lagi, seperti yang ia minta.

***

Dia bukan pacar yang romantis. Paling nyelipin tanganku ke jaketnya kalau kami sedang berboncengan. Itu aja sudah membuatku merasa amat disayang. Kado ini adalah pengecualian yang entah mengapa, ia berikan. Makanya aku menganggap ini luaaarrr biasa!:)
Masih satu hari lagi.

***

Lampu yang membentuk rangkaian lambang hati itu terus berpendar, seiring lagu happy birthday yang mengalun cempreng. Ini ulang tahun kami. Ini juga hari putus kami. Kubaca sekali lagi tulisan di bawah lambang cantik itu; Aku selalu menyayangimu, dan akan terus begitu, tapi kita tak bisa bersama. Kau tahu sebabnya.


Aku berharap ada air mata yang jatuh, untuk sedikit membasuh ingatan tentangnya.

Dear kekasih, aku....



*dibatasliniwaktudanmasihmemikirkanmu*


Kamis, 06 Januari 2011

SUATU SENJA DI JAKARTA


Tersendat-sendat motorku melaju dikepadatan lalu - lintas Jakarta, sore ini. Sebentar lagi waktu berbuka puasa. Semua orang tampak terburu-buru. Sudah hampir satu jam dan baru seperempat perjalanan yang bisa kutempuh. Duh, semoga nggak telat. Kulirik jam di pergelangan tangan, sudah waktunya buka puasa. Mampir beli minum dulu ah. Tapi baru mau buka tutup botol air minum kemasan, pengendara yang di belakang sudah ngelakson terus. Hhh...baik laahh...


Untungnya, perempatan lampu merah setelah mal itu tidak lama dan kemacetan segera terurai. Fiuuhh! Bisa ngebut juga. Aku mau menjumpai kekasihku.


***


"Hai"

"Hai! Maaf telat"

"It's okey. Makan yuk!"

Teh manis panas dan Jeruk hangat. Kami bicara soal film, musik, pekerjaan, trend masyarakat, lelucon garing...semuanya. Dia pacar yang asik.

"Filmnya mau mulai, tuh. Masuk yuk!" Dia meraih tanganku dan menggenggamnya. Hangat. Aku suka.


***


Teetttt...teeeett....teeeetttt...!!!

Alarm BB berbunyi dengan nada yang sama. Waktu yang sama. Yang kulakukan pun sama, mematikannya dan tidur lagi.

Hoooohhh...pengen mimpi lagi... :))


*siangbolongsaatmengenangyangtakbolehdikenang*


Senin, 05 April 2010

FIKSIMINI DI SINI

'Mainan baru' yang bernama twitter, menjadi asik ketika ada #fiksimini sebagai bahan tweetnya:) 140 karakter huruf menjadi tantangan bagi siapapun yg ingin 'bercerita' dalam #fiksimini. Bahkan sekarang, #fiksimini memiliki tema yang berganti setiap harinya. Fenomena unik yang akhirnya bisa melahirkan pencerita-pencerita baru yang tadinya 'malu-malu' :). Okey, mari kita ber-fiksimini di sini!;>
#fiksimini :
"Aku ingin seperti lelaki lainnya dlm hidupmu, yg berani jujur saat smua terlanjur." Berpuluh tahun kemudian, ia berhadapan dg jasad kaku wanita yg dicintainya, dan tak bicara sepatah kata pun. "Ini terlalu terlanjur", gumamnya.
#fiksimini :
Dia menungguku di ujung waktu. Aku menunggunya di gerbang rindu. Kami tak pernah bertemu.
#fiksimini :
Cincin yang melingkar ini milik dua laki-laki; suamiku dan suami khayalanku. Mereka adalah orang yg sama.
#fiksimini :
Suaranya gemetar menatap sosok hitam di hadapannya, "Apa maumu?". "Kamu!" "Aku tak punya apa-apa!" "Kamu punya lampu! Jangan matikan, karena aku akan sirna." Namun, sosok hitam itu hilang, ketika PLN benar2 membuat pemadaman bergilir.
#fiksimini :
"Kenapa mengikutiku?" "Karena aku bayanganmu, bodoh!" "Bukankah tak ada cahaya di sini, bagaimana kau bisa ada?" "Oh, kalau begitu aku hantu."
#fiksimini :
Acara lamaran dimulai. Keluarganya membawa seserahan utk meminang. Aku melirik gadis muda di sampingku. Diam-diam, aku menangis bahagia.... 25 tahun lalu, aku yang dipinang.
#fiksimini :
Anak kecil itu girang bukan kepalang mendapat ibu baru! Segera ia turuti kemauan si ibu, utk berganti pakaian, memakai gincu, dan tidur bersebelahan dengan lelaki baik yg memberi uang segepok ke ibu. Ia kira, itu juga bapak barunya.
#fiksimini :
Akhirnya, menara Eiffel itu di depan mata! Dia menemuiku utk memenuhi janji. Janji untuk menjadi majikanku di kota romatis ini.
#fiksimini :
"Sini kucium!" "Nggak mau!" "Kenapa?" "Karena ini cuma mimpi!" "Siapa bilang? Ini fiksimini, kok!"
Hahahahaaa..... udah gak ada ide lagi, kapan2 dilanjutin yeee!!! :p

Jumat, 05 Maret 2010

Nona Neli

Matanya melirik sirik ke arahku. Ini baru kejutan pertama buatnya. Aku, seperti amunisi yang siap dimuntahkan, demi membalas semua tatapan merendahkan yang selalu terlontar padaku. Sebut saja namanya Nona Neli. Blasteran Cina-India yang membuat warna kulitnya aneh dimataku. Anak semata wayang keluarga konglomerat yang semakin mensahkannya untuk berbuat sesuka hati karena punya uang. Nona Neli salah untuk satu hal, merendahkan harga diriku. Tak akan kubiarkan itu!

Hari ini, aku mengenakan semua yang terbaik. Baju, sepatu, perhiasan, make up....meskipun harus menghabiskan seluruh uang tabungan yang rencananya untuk qurban tahun depan. Biarlah, demi menghajar si Nona sombong itu dalam satu pukulan telak yang menyakitkan!
Sejauh ini, usahaku tidak sia-sia. Semua mata yang biasanya tak menganggapku atau memandang biasa saja ke arahku, tiba - tiba menjadi sangat liar menelusuri setiap jengkal diriku. Kagum...penuh nafsu! Heh! Kalian memang bodoh!

Nona Neli semakin liar. Membenciku tak pakai nalar. Setelah kukalahkan kegaya'annya, kini kugoda kekasihnya. Tunggu saja, sebentar lagi akan kuambil kedudukannya. Aku, memiliki kartu truff untuk menggulingkan karirnya. Nona Neli pernah mencuri uang kantor meski hanya sehari. Tapi mencuri, tetap saja mencuri! Sedikit kubumbui, kejadian setahun lalu itu akan menjadi berita besar yang membuatnya malu seumur hidup! Dan ia membenciku. That's all i want!

Aku terduduk bisu ditepian malam yang perlahan benderang. Cukupkah? Puas sudah? Ah, aku ingin memencet tombol Delete untuk semua ini. It just fiction, my illution, and only imagination. Can you trust me for a second? Im tired and need to sleep :)