Rabu, 02 September 2009

I JUST WANNA SAY, I LOVE U!

Bahkan Melly Goeslow pun kesulitan untuk menunjukkan perasaannya, memberitahukan cintanya..., hingga di lagu 'I just Wanna Say, I Love U' nggak ada kalimat lain selain kalimat itu! Beerrrulangkali kalimat itu diucapkan dengan nada yang berbeda2 hingga membentuk satu lagu. Seolah ingin meyakinkan (dirinya dan orang lain) bahwa memang HANYA dan CUMA itu yang ingin dikatakan! Mungkin nggak ngarepin jawaban, nggak berkhayal balasan, pokokke bisa bilang aja, ya udah! Thats it! :)
'I Just Wanna Say, I Love U' itu lagu yang sangat simple. Dan mungkin sebenarnya Melly ingin bercerita bahwa kalimat 'I Love U' itu bukanlah sesuatu yg teramat besuaaarr ato menakutkan. It's simple words. Just Say it, if you want to! ;> Tapiii, kalau buatku sih, tetep yaa..itu memang simple... but itsn't easy!;>
*Lying to my self :(*

Jumat, 28 Agustus 2009

TEKNOLOGI JUGA (BUKAN) MANUSIA

Ini tentang teknologi, jadi tolong serius ya!!
Ceritanya, di kantor kan kl absen pake sidik jari. Nah, suatu kali temenku, Jordan, ganti kulit tangan. Akibatnya, dia harus mengulang2 menekan jempolnya ke alat deteksi itu minimal 15x setiap mo absen agar si alat mau 'menerima' jarinya! Pegel euy!:p
Tadi pagi aneh lagi. Jempol Ninda dibaca 'Kiki' oleh alat itu. Setelah tiga kali, baru dia mau membaca dengan benar. Ternyata, kalau jempol Ninda dimiringin dikit saat menekan, maka yg muncul nama 'Kiki'. Sedangkan kalau benar pas tengah menekannya, baru bisa terbaca 'Ninda'. Lha, kalau begini, apa kabar sidik jari teroris?? :D
Masih soal teknologi. HP ku yg merah super imut, centil, dan murah itu, kalau menerima SMS dan telepon bersamaan, maka nada deringnya seperti kaset kusut. Sumprit gak boong! Rupanya SMS dan Telepon tidak hanya berperang tarif tapi juga perang dulu-duluan di HP ku! hehe...
Udah ah, mo kerja dulu. Segini aja seriusnya!;>

Kamis, 27 Agustus 2009

FANS BERAATTTHH!!

Nggak tau kalau di luar negeri, di Indonesia hampir setiap artis punya sebutan untuk para fans-nya. Entah karena ingin dianggap 'besar' karena punya fans fanatik, mengikuti trend, biar gampang manggil kalau pas manggung, atau benar2 ingin mewadahi aktivitas mereka untuk ngedukung karir si artis ybs. Yang bisa dipastikan punya sebutan untuk para fans-nya adalah grup band. Mungkin karena mereka sering pentas langsung di depan massanya. Biasanya sebutan itu diambil dari judul lagu pertama mereka yang booming atau penambahan di belakang nama band mereka. Nah, ini dia beberapa sebutan untuk para fans itu. Mungkin pernah ada yg posting seperti ini? Gpp lah, kita ramaikan lagi! hehehe...


Fansnya Iwan Fals : OI (Orang Indonesia)
Fansnya SO7 : Sheila Gank
Fansnya Padi : Sobat Padi
Fansnya Peterpan : Sahabat Peterpan
Fansnya Ungu : Cliquers (atau Ungucliquers)
Fansnya Gigi : Gigi Kita
Fansnya Radja : Radjaku
Fansnya Lyla : Lylaku
Fansnya D'massiv : Massivers
Fansnya KLA Project : Klanis
Fansnya Dewa 19 : Baladewa
Fansnya Andra and The Backbonne : Backbonners
Fansnya ST 12 : ST Setia
Fansnya Gita Gutawa : Gita Lovers
Fansnya Luna Maya : Lunatic
Fansnya Kuburan : Kuncen (cowok) , Kuncin (cewek)
Fansnya Changcuters : Changcut Rangers
Fansnya Matta : PerMatta
Fansnya Kerispatih : Mahapatih
Fansnya The Titans : Titanium
Fansnya Nidji : Nidjiholic
Fansnya Samsons : Samsonia
Fansnya J-Rock : J-Rockstar
Fansnya Slank : Slankers
Fansnya Inul : FBI (Fans Berat Inul)
Fansnya Netral : Netralizer
Fansnya Jamrud : Jammers
Fansnya Agnes Monica : Nezindaclub
Fansnya Afgan : Afganisme
Fansnya Vidi Aldiano : Vidies
Fansnya Ari Lasso : Wong Alass
Fansnya Duo Maia : TTM (Teman-Teman Maia)
Fansnya......


Hhhfff.....capek juga, yah..ngelistnya. Ada yg mo nambahin??
Sekalian sayembara deh, apa sebutan yg pas buat para fans ku?? *ngabuurrr*

Minggu, 23 Agustus 2009

ACI; Aku Cinta Indonesia :)

Meskipun tidak ada maling yg mengaku maling, tapi boleh toh, di bulan Ramadhan ini kita memupuk prasangka baik selalu?!hehe....
Belum ada pernyataan resmi dari Malaysia bahwa mereka mengklaim Tari Pendet sebagai kepunyaannya, sehubungan dengan pencantuman gambar Penari Pendet pada iklan pariwisata Malaysia. Lalu, kenapa kita langsung kebakaran jenggot? Curiga dan tak mau kecolongan? Bagus sih, tapi kalau nggak terbukti, malu sendiri loohh!!;>
Barongsai pernah dimunculkan dalam promosi wisata Indonesia, dan kita tidak bermaksud mengklaim budaya asal Cina itu sbg milik kita. Di bumper program acara wisata televisi, kita sering melihat gambar ikon2 wisata luar negeri, seperti Menara Eiffel, Jembatan Sydney Harbour, Patung Liberty, dll ditampilkan. Apakah kita mengklaim itu milik Indonesia? Apakah kita telah minta ijin dari negara2 pemiliknya? Apakah negara2 tersebut marah sama kita? Yang pasti mereka diuntungkan dengan promosi gratis di Indonesia. Sekarang coba tanya, siapa diantara kita yg tidak ingin ke Perancis untuk melihat Eiffel? Lalu pilih mana, melihat Patung Liberty atau Patung Pancoran? Trus kenapa juga pilih mencantumkan gambar Jembatan Sydney dibanding Jembatan Suramadu di opening bumper program wisata di tv kita? Terakhir, seberapa banyak orang tua yang bangga menggunakan bahasa daerah kepada anak2nya dan seberapa banyak orang tua yang lebih suka anak2 mereka les tari tradisional atau gamelan dibanding les balet, salsa, serta nge-band? :/
Memang 'sialan' kalau sampai kebudayaan nenek moyang kita diaku dan diambil bangsa lain. Nggak salah juga kalau kita resah dan 'mati-matian' membelanya. Kalau mencintai berarti juga bangga dan menjaga, mari kita tanya pada diri ini, apa yg sudah kita lakukan pada budaya bangsa sendiri?
(O,iya....selamat menjalankan ibadah2 di bulan Ramadhan 1430 H, semoga kita semua sampai pada kemenangan!;>)

Jumat, 21 Agustus 2009

O.M.G (2)

Untuk segala kesinisanku,
Keacuhanku,
Ketidakpedulianku,
Ketidakmauanku,
Kemarahanku,
Maaf...

Kamis, 20 Agustus 2009

BEDA AGAMA DI SEVENTEEN

Eh, udah liat video klipnya Seventeen yang “Jalan Terbaik” belum?
Haduuhh...itu video klip kok ya, tumben2nya bercerita tentang pacaran beda agama. Huhuhu... :p

Biasanya, kisah seperti itu cuma jadi bumbu di cerpen majalah atau cerita novel. Di film aja aku belum nemuin tuh! Temanya emang sensi, sih. Mungkin bukan karena nggak berani mengungkap cerita berlatar belakang seperti itu, tapi karena solusi yang harus menjadi endingnya akan sangat subyektif dan rumit sekali! Hehehe....;>

‘Jalan Terbaik’ versinya Seventeen di VK itu adalah berpisah. Sejauh ini yang kutahu, ya emang cuma ada dua solusi umum yang sering terjadi : berpisah atau salah satu ‘ikut’ agama pasangannya.

Mengambil salah satu dari dua solusi itu aja bukan perkara mudah, loh...karena ini menyangkut keyakinan. Satu hal mendasar yang sudah tertanam sebagai fitrah manusia ketika ia dilahirkan. Andai saja agama itu ‘sekedar’ jalan yang berbeda atau ‘ibarat’ pakaian berwarna pada manusia saja, pastilah tiap saat, tiap hari, kita bisa ganti2 baju semaunya dan pindah2 jalur jalanan kalau lagi bosen. Nyatanya, enggak ada manusia yang berganti atau pindah agama setiap hari atau berkali-kali. Ini karena agama bukanlah ‘sekedar’ jalan yang berbeda, apalagi ‘ibarat’ pakaian dengan warna beda yang melekat pada masing2 manusia. Ini perkara serius, perkara besar, perkara yang menuntun pada satu pertanyaan; untuk apa kita diciptakan?

Ku yakin kita akan bahagia
Tanpa harus selalu bersama
Tak perlu disesali
Tak usah ditangisi

(Seventeen – Jalan Terbaik)

Selalu ada hikmah disetiap kejadian. Itulah yang akan menjawab, seberapa tangguh dirimu?!

EROPA DI INDONESIA


Kemarin, BJ nunjukin foto2 liburannya ke beberapa negara di Eropa, diantaranya mengunjungi Menara Eiffel dan Pissa di Roma.
Aku : “Abang naik ke atas menara juga, kan?”
BJ : “Nggak lah...antrinya panjang banget!”
Aku : “Hah? Masa’ sih...kan sayang udah sampai sana, Bang!”
BJ : “Iya, tapi bisa berjam-jam antrinya....mau bayar berapa parkir mobilku nanti...”

Wah, kalau aku jadi BJ, pasti akan kubela-belainantri meskipun berjam-jam, meskipun diantara ribuan orang, untuk bisa mencapai kedua puncak menara yang tersohor itu! Once in a lifetime, cuy!

Kira2, berapa ya, pendapatan yang diperoleh negara Perancis dan Itali dari sektor wisata mereka? Menara-menara itu saja yang mengunjungi ribuan orang setiap hari. Sambil menunggu, wisatawan bisa mengunjungi lokasi lain. Transportasi maju, tempat makan-minum pasti laris, pekerja jasa pasti banyak, toko2...penginapan...penjual souvenir....hemm...wajar aja orang sana kaya-kaya!:p

Diam-diam aku sedang meng-compare keadaan itu dengan Indonesia. Meski lokasi wisata banyak dan bagus, mana ada sih, yang peminatnya sampai antri ribuan setiap hari begitu?:/

Sempet ngobrol2 sama mr.rawalumbu juga, dia yg hobi browsing di google earth untuk nyari jalur2 perjalanan (nyari mulu, kapan jalannya cuy! Haha...), cerita tentang trip ke sebuah pulau di daerah Pasifik yang cuma bisa dijangkau dengan dua penerbangan dari Cina atau Philipina. Padahal, lokasi pulau tersebut lebih dekat dijangkau dari Sulawesi atau Maluku. Sayangnya, nggak ada penerbangan kesana dari Indonesia. Dan kesempatan untuk membuat Wisatawan dari seluruh penjuru dunia ‘mampir’ ke Indonesia, pupuslah sudah.

Obyek2 wisata kita kadang ‘aneh’ sih. Gimana orang mau datang lagi atau berbondong2 mengunjungi, kalau saat beli tiket di loket masuk aja nggak diberi senyum ramah, bahkan dilirik pun jarang! Bungkus permen, tisu bekas, atau kulit kacang kadang berserakan. Barangnya kecil, tapi tetep aja mengganggu pandangan mata! Tetep aja itu sampah dan bikin kotor! Penjelasan tentang obyek atau papan penunjuk arah juga minim. Keberadaan toilet, tempat sampah, kran air untuk sekedar cuci tangan juga terbatas dengan kondisi yang jarang bersih! Baru masuk obyek wisata, udah dikerubutin sama tour guide lokal atau pedagang asongan atau penjual cinderamata. Mau beli makanan-minuman di lokasi, mahal karena harganya harga ‘palakan’! Hhhh...:(

Indonesia punya banyak lokasi wisata yang bagus, tapi modal itu belum cukup. Infrastruktur penunjang seperti akses ke lokasi, transportasi dan akomodasi baru di beberapa tempat saja yang memadai. Belum lagi tingkat ‘sadar wisata’ masyarakat sekitar lokasi wisata juga masih kurang. Sejauh aku melakukan perjalanan, baru masyarakat Bali yang terlihat jelas ‘sadar wisatanya’. Bukan karena daerah mereka adalah tujuan wisata nomor satu di Indonesia, tapi mereka sendirilah yg mampu menciptakan Bali menjadi nomor satu itu. Alam mereka yang indah dan kebudayaan mereka yang masih terjaga benar2 dijadikan modal untuk menarik wisatawan. Kreativitas pun tercipta. Lokasi2 penunjang wisata yang dibangun, nggak cuma asal jadi, estetika tetap ada, ke-khas-an daerah tetap dimunculkan. Keramahan penduduk lokal ditambah kemengertian mereka akan potensi di daerahnya, membantu sekali. Jarang aku temui parkir kendaraan yang bayar, sementara di daerah lain..baru berhenti sebentar aja udah ‘dipalak’ biaya parkir yang tanpa bukti jelas itu. Pengamen, anak jalanan....kayanya juga jarang atau malah nggak ada...atau mungkin, aku belum pernah nemuin aja..hehe...:p

Lokasi dan kondisi seperti Bali itulah yang disebut Wisata positif, kalau kata Pak Jero Wacik. Artinya, siapapun yang pernah datang, pasti ingin kembali lagi, bahkan sebelum ia benar2 pergi dari tempat itu!;> Parahnya, kalau sampai ada lokasi wisata yang bikin kapok! Ini biasanya disebabkan, lebih banyak, oleh ketidakramahan orang2 di lokasi atau bahkan ‘dijahati’, ditipu, dibohongi, dipalak...yg membuat wisatawan tidak nyaman...dan kapok itu tadi!:D

Kita bisa kok, ikut mengembangkan pariwisata Indonesia, contohnya dengan mempromosikan wisata2 yg ada lewat blog yang kamnu punya, berkunjung ke obyek2 wisata yg ada, menjaga kebersihan Indonesia (nggak cuma di lokasi wisata, loh ya!), helpfull dengan para wisatawan yg datang ke lokasi wisata di sekitar kita. Mau itu domestik ataupun manca, semua adalah pendatang yang ingin senang2, ingin diperlakukan baik, ingin kemudahan, dan ingin punya kesan di tempat yg mereka kunjungi. Bravo, Visit Indonesia Year 2009!

Ngemeng-ngemeng, kapan ya aku bisa keliling Eropa kaya BJ gitu????