Selasa, 07 Oktober 2008

FRIENDSHIP - LEBARAN - DAN REUNIAN

Sudah nonton film Sex And The City?
Bukan film baru sih, aku juga beberapa bulan lalu nontonnya, ngacir dari kantor sama temen2 ke Hollywood KC dan antri panjaaaaaaaaaaaaaaanggg benjet! Hehe....
Bukannya mau me-review film itu sih, cm ingin menggarisbawahi, bahwa itu adalah salah satu film yg menggambarkan tentang persahabatan dan ‘ngena’ di hati! Inget gak, waktu Carry (Sarah Jessica Parker) mukul calon suaminya yg ‘ngabur’ karena merasa ragu utk menikah, lalu teman2 Carry datang memeluk dan ‘membela’ Carry? Owwh....berasa banget berartinya teman..sahabat disitu.

Jadi inget, kayanya di setiap tempat atau lingkungan, aku selalu punya teman akrab. Teman yg saling membela. Teman wara-wiri kesana-kemari :D

Waktu TK, temen akrabku adalah cowok kecil gendut yg rumahnya depan rumahku dan selalu menghampiri saat berangkat sekolah. Namanya Bayu Pamungkas (where are you?). Saking akrabnya, dulu waktu aku pindah ke Jogja, kami selalu aktif berkirim kabar lewat surat. Tulisan ceker ayam dengan pinsil di selembar kertas buku tulis itu terasa hebat sekali. Padahal apa yg kami tulis standar dan selalu itu dan itu saja. Diawali dengan tanya kabar, balik mengabari bahwa diri kita berkabar baik - sehat wal afiat, lalu tanya sedang apa, kapan maen bersama lagi serta rangking berapa di sekolah. Setelah dirasa hampir penuh satu halaman, suratpun akan ditutup dg kalimat2 yg jg standar dan itu2 saja... kiranya sekian, pantun empat kali empat sama dengan enambelas, lalu salam, tanda tangan dan nama terang.
O, iya...satu lagi, pasti ada tulisan “ n.b “ alias nambah di bawah halaman surat. Entah sekedar mengingatkan suatu hal atau wanti2 untuk segera membalas:) Aku lupa kapan persisnya surat menyurat itu berakhir, mungkin ketika kami mulai sama2 menemukan teman2 akrab yg baru.

Saat SD di dekat rumah simbok, aku punya teman akrab yg kupanggil ‘Bakmiyatun’ . Padahal yg bener ‘ Mbak Yatun’. Entah siapa nama panjangnya. Dia sahabat yg hebat. Lingkungan baru super asing yg kuhadapi terasa menenangkan jika bersamanya. Sosoknya melindungi dan terasa lebih dewasa meski kami sebaya. Kalau ia ke sekolah tanpa alas kaki, aku pun akan merengek minta ijin ibuku utk tdk bersepatu juga. Nyaman sekali menapaki jalan tanah di kampung menuju sekolah dg telapak kaki terbuka, yang disetiap pengkolannya kami bertemu teman2 satu sekolah juga. Tapi jangan harap kami mau jalan bareng kalau ia laki2, ya! Khusus perempuan saja!:)

Di SD berikutnya (dekat rumah Pakdheku), aku punya teman akrab namanya Sutrah. Rambutnya panjang sepantat, yg kalau habis keramas akan tergerai lepas, tapi kalau tidak, akan dikuncir tinggi...haluuss sekali karena diminyaki. Badannya lebih besar dariku. Sosoknya juga lebih kalem dan dewasa. Pintar mengaji karena keluarganya jg sangat Islami. Dulu, kalau habis olahraga, biar bisa jajan macem2, aku dan teman2 yg lain sering nyuri waktu ke rumah Sutrah yg gak jauh dari sekolahan untuk sekedar minum bergelas2 air putih. Dengan begitu, kami bisa menggunakan uang saku yg ada untuk beli es sirup, ciki, arem2, permen, gulali, atau makanan ringan yg lain. Managemen uang ternyata sudah kulakukan saat itu hehehe...

Di SMP, aku punya dua sahabat dekat. Yang satu namanya Fina Alfiani. Dia bener2 tipe cewek yg bikin ‘iri’. Bayangkan, Fina ini cantiknya bukan main. Ia juga sangat pintar, baik hati dan anak orang berada. What a perfect life?:) Tiga tahun aku duduk sebangku dengannya.
Satunya lagi bernama Purwani Utami. Aku memanggilnya Mbak Uut, karena sebelum satu SMP, aku sudah lebih dulu mengenalnya di lingkungan rumah (yg baru saja kami tinggali, waktu itu). Uut inilah yg akan ‘melaju’ bersamaku hingga SMA-kuliah-menikah-selamanya (amiin), karena kami sudah seperti saudara. Orangtuanya baiiikkk banget. Sudah kuanggap ortuku juga. Bersama Fina & Uut, jiwa ABG ku berkembang saat itu. Masing2 punya cem-ceman. Tiap hari gak terlewati tanpa ngerumpi. Apalagi kl bukan tentang si doi yg menggetarkan hati?! Hwuakakakakakk....

Sekolah SMA di kota Jogja, membuatku harus ngekos. Itulah kali pertama aku mulai hidup ‘jauh’ dari orang tua. Teman kamarku, ya Uut tadi. Di sekolah sendiri, terasa makin banyak teman yg bisa diakrabi. Ternyata jadi siswa SMA, pikiran dan diri kita lebih terbuka. Kita bisa bersahabat dengan banyak orang:) Begitu juga ketika kuliah. Selain tetap sekos-kosan dg Uut, teman2ku di kampus juga dekat semua. Semua bernilai sama, sepertinya. Tapi, ada sih yg paling dekat....yaitu, ketika yg namanya ‘pacar’ mulai hadir di keseharian;) Dan saat itu terjadi, ada sekian persen waktu bersosialisasi kita yg tersita untuk bersama pacar bukan? Jadi sebenarnya, pacaran itu menguntungkan tidak? Hehehehe....

Lingkungan akademi berganti dengan lingkungan kerja. Di beberapa tempat kerja yg pernah kusinggahi juga banyak teman2 dekat yg sangat berarti. Masing2 memberikan warna yg berbeda. Dan semakin kesini, yg namanya friendship itu terasa semakin berarti. Ada banyak cerita, kesedihan, kesenangan dan ‘kegilaan’ yg bisa dilakukan bersama temans. I love it!

Libur lebaran, biasanya aku manfaatin untuk bertemu teman2 lama. Entah kunjungan perorangan (dikunjungi ato mengunjungi) atau barengan. Semakin kesini, setiap orang punya kesibukan yg makin kompleks. Jadi tren kunjungan perorangan mulai diganti kumpul2 bareng atau reunian saja. Simpel, singkat, padat!
Dan kemaren, Amplas Jogja kembali menjadi saksi bisu (halah...) berkumpulnya orang2 ‘awal’ di JogjaTV. Ada yg udah punya anak, ada jg yg masih jomblo (ehem!). Senangnya bisa mengenal ‘orang2 baru’ dikehidupan teman2ku itu. Ada banyak cerita, ketawa, kenangan dan kenarsisan hehe...ini buktinya (punten, hasil fotonya pada blur :( Catuuur, minta foto dr kameramu duunkss!!):






(Ringkasan cerita dibalik reuni : Siska -with her husband & Hanin, the daughter- came first..., then me, Bhagas and Pascal's family -Mba Wulan & Ken. Felix's family -his wife & Dayus, the son- coming then, while Siska should be gone. And the last joined was 'mr.black' Catur. Army sempet respon SMS mau datang kalau bisa, tp mungkin krn sedang hamdan alias hamil badan hehe...atau suatu hal, jd gk bisa. Dwi gk mudik, jd ya gk dtg. Poppy pengen ikutan, tp ada acara keluarga ke Solo. Sempet request ganti tanggal sebelum or sesudahnya, tp setelah diotak-atik, emang susah nemuin semua jadwal sama:p Lalu bapak Andika yg sedianya bisa, ternyata jg musti ada urusan keluarga ke Wonogiri. Padahal kami menanti cerita Ambon manise darinya hehe... Aa'Git jg musti nganter sang istri yg akan balik ke Jakarta. Sementara mas Erly gk bisa dateng karena kerja. Busyeett, Er..rajin kali kau ini!:D Ibu Sulis jg pamit ndak dateng gara2 musti berkunjung ke sanak saudara-aku disuruh membayangkan berapa jmlh budhe pakdhe dari 4 istri simbahnya- yg hrs ia kunjungi hihihi....pegel gak buu??! Mas Yayan tidak bisa hadir karena masih ditempat saudaranya yg jauh disana. Lalu bapak Budi -yg paling dulu resign itu-sempat konfirm ke Siska mau datang dari Semarang tp ko' ya tak kunjung tiba!:p KESAN : Siska makin berisi, dewasa dan rilex jd ibu bahagia, Bhagas terlihat lebih ceria dan tetap pendiam seperti biasa :p..., Pascal tetap matang dan asik diajak bicara - btw, thanks for the SMS yaa...aku terharu hihi- Catur tetap 'hitam' , sumeh dan muda..hohoho. Dan ini nih yg 'tidak tetap' ; Felix kurus bangeeettt!!! Kok bisa, sih? Kasih tips dietnya duoonggss!! hehehe.... )

Kelihatannya memang sekedar kumpul sambil makan, ngobrol dan ketawa2, tapi bagiku, itu adalah suntikan energi untuk hidup. Something different yg akan mengkreatifkan otak karena tidak dijejali hal2 rutin apalagi monoton. Charger yg bikin semangat, karena ternyata kita masih punya teman, punya orang2 terbaik, punya orang2 yg bisa disayangi dan menyanyangi kita. Menjadi manusia yg LEBIH berarti. Bukankah itu yg kita cari?

SIMBOK

Sore tadi, Simbok meninggal. Di hari kedua Lebaran, 1429 H. Saat semua anak, mantu, cucu dan buyutnya berkumpul. Mungkin, ini hadiah Gusti Allah untuk Simbok, bisa pergi dg dihantarkan oleh semua keturunannya.

Kata Paklik, usia Simbok 87 tahun. Itu pun hanya perkiraan, dari hasil menambahkan tiga tahun lebih tua dari usia adik Simbok yang sudah meninggal lebih dulu, 40 hari yang lalu. Simbok memang tak pernah tau, kapan tepatnya ia dilahirkan. Mungkin bagi orang tua Simbok (mbah buyutku), dan bagi Simbok sendiri, mengingat tanggal kelahiran itu tidak penting. Jadi, jangan pernah tanya juga, apakah Simbok pernah meniup lilin di atas kue tart ulang tahun:)
Tapi anehnya, Simbok tak pernah lupa untuk membuatkan bubur merah putih dan beberapa bahan sesaji disaat neptu hari kelahiran anak atau cucunya. Kok bisa inget, ya?

"Aku duwe gulo enak! Gulone kuning, krenyes-krenyes. Lha gae wis tak cuil-cuil nggo kowe!"
Selalu itu yg ‘dipamerkan’ Simbok, kalau aku berkunjung ke rumahnya. Lalu, dengan girang aku ke pawon (dapur) mengambil potongan2 gula jawa yg dimaksud tadi. Sambil senyum2, Simbok memperhatikanku mengunyah gulanya. Lalu ia akan mulai memujiku, "Kowe kok, tambah ayu saiki?" "Yo, sopo sik, ta..simbahe..." Jawabku sambil menggodanya. "Hayah! Hehehe...." Selalu itu tanggapan Simbok, sambil senyum menjep, ‘nyuil’ daguku dan berlalu untuk melakukan aktivitas lagi.

Dan pada akhirnya, semua yang hidup akan mati...
Hari ini Simbok, esok entah siapa lagi. Maut adalah hal terdekat kita. Sayangnya, kita sering lupa. Sayangnya, kita sering menganggap remeh, apa yang akan terjadi setelah mati. Sayangnya, kita sering merasa yakin akan bisa menjawab tanya; Siapa Tuhanmu? Siapa Nabimu? Dan Apa agamamu? Sayangnya, kita sering terlalu percaya diri, bahwa kalau sudah berbuat baik, surgalah yang menanti. Kita lupa, bahwa ridho Allah adalah kunci penentu 'pintu' mana yang akan kita masuki.
Semoga Allah ridho sama Simbok...semoga Allah sayang sama Simbok...

"Jika surga dan neraka tak pernah ada, apakah kita akan tetap bersujud kepada-NYA?"

Tuhan Maha Adil, diciptakan-NYA surga dan neraka sebagai balasan yang adil, seadil-adilnya untuk perbuatan manusia di dunia. Untuk keadilan yang mungkin tak kita dapatkan di dunia. DIA Maha Mengetahui . Dia Maha Tahu, bahwa di bumi ini, tidak semua orang mendapatkan keadilan. Jadi, tidak usah risau jika hukuman untuk para koruptor di bumi ini hanya sekian bulan saja. Tidak perlu nekat, jika perbuatan baik kita diaku oleh orang lain. Tidak perlu sewot, jika maling motor keburu meninggal sebelum diadili. Akan ada pengadilan Sang Maha Adil. Setiap jiwa akan bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Tak ada yang menurunkan dosa, tak ada yang kembali untuk hidup ‘coba-coba’. Maka, bersiaplah untuk surga atau neraka!
Andaikan ego dan kebodohan tetap meng-ignore semua itu, yakinlah bahwa berterimakasih untuk semua ini pada-NYA adalah hal indah yang diingini jiwa.
Kagem Simbok, mugi-mugi, Gusti Allah pinaringan dalan ingkang padang, dipun ampuni dosane, dipun tampi amal lan ibadahe.
Innalillahi wa innaillaihiroji’un....

THE QUOTE

Miss Quote is back! Hehehe...
Sayangnya, daya ingat miss quote kok makin menurun ya?!:( Jangankan nginget quote2 panjang, nginget nama orang yg baru kenalan saja pasti segera lupa. Jangan2 kebanyakan dosa nih? Huhuhu...

"Cinta sejati, tak pernah hilang. Mungkin ia tersembunyi, tapi akan hadir lagi. Ia menunggu untuk dicari. Mengulang semua kenangan dan mengembalikan semua yg tertunda"
Hehehe...ini bukan quote murni. Sumprit, gara2 ingatan yg buruk, baru semalem dapet udah langsung lupa aja gituuu. Aaaarrrgggh!!

Sekitar lima belas tahun yang lalu, ada sebuah rasa manis yang hadir di hati ini. Terus tumbuh dalam kediaman, pada seseorang yg dekat tapi terasa jauh. Sekedar bisa mengagumi lewat mata, sembari menyelipkan doa-doa di bibir mungil. Sampai akhirnya waktu membatasi, dan harus dibuangnya semua rasa. Aku lupa, apakah dulu sempat mengucapkan ini; Tuhan, pertemukan kami dalam keadaan yg lebih baik nanti.

Lima belas tahun kemudian, ada pertemuan. Kata Sang Alkemis, selalu perhatikan tanda-tanda. Aku pun mulai mengusik, merangkai dan mengartikan yg terjadi di depan mata...mencari tahu, apakah ada yg tersisa. Mencari jawab, apa artinya semua ini?

Lima belas tahun mengajariku banyak hal. Tentang setia, tentang rasa, tentang berbeda, tentang pilihan-pilihan dan tentang kemauan diri sendiri. Mengerti, bahwa jalan hidup bukanlah batu karang yg kokoh diam tak tergoyahkan, melainkan seperti air yg akan mewujud sesuai tempat yg kita berikan... mengalir pada arah yg kita tentukan... sampai di muara karena keridhoan...dan bergabung dg laut luas yg bebas tapi tetap berbatas.

Akhirnya, selalu syukur yg terucap...jika tak pernah kehilangan hal yg berarti, bagaimana mungkin kita akan tau itu berarti? Bagaimana mungkin aku akan tau, bahwa ini lebih baik dari itu, atau itu lebih berharga dari ini?

Begitulah alam semesta bekerja...memberikan hikmah pada akhirnya.

Senin, 15 September 2008

DUA

Suatu hari di bulan September.

Malam yang biasa. Terasa berjalan cepat, seperti malam-malam sebelumnya. Andai saja bisa request, ingin sekali satu hari jadi 30 jam. Hanya buat kerjaan??? No! Rupanya ini mulai ‘gila’!

“Kenapa menghubungiku?”
“Yaaa.... ingin aja. Karena kamu yang selalu bisa dihubungi, tidak pernah merasa terganggu...dan tidak pernah komplen..”
Ssrrrr...inginnya merasa berbunga-bunga, tapi kok nggak bisa ya? Hanya senyum simpul dan sedikit lega, “Oh..aku masih dibutuhkan.”


Suatu hari lain, di bulan September.

Malam yang gerah. Sebelumnya tidak. Tapi memang sedang tidak sensitif, sehingga sebenarnya ragu, apakah memang begitu kondisinya.

Mengenang adalah pekerjaan yang menyenangkan. Dan itulah yang terjadi. Sekaligus ingin membuktikan, bahwa dulu benar. Hati selalu benar.
Tidak ada gejolak yang berarti. Coba ditelusuri...hanya desiran halus pada rasa-rasa penasaran saja. Amazing, it finally happened! There we were. Yang dulu angan, kini di hadapan.

***
Setiap masa memiliki keinginan utk dituruti.
Setiap keinginan berubah mengikuti kata hati.
Setiap hati mencari kebenaran pada diri.
Setiap diri mewujudkan mimpi-mimpi.
Setiap mimpi membutuhkan masa utk dimiliki.

Jumat, 12 September 2008

pengen nulis, tapi...

Huhu...sebel gak sih, pengen nulis tapi gak tau apa yg mo ditulis?! Apa karena kerjaan yg sedang 'menggila' atau karena lg bodoh aja? Plis deehh...
Huumm....sepertinya butuh patah hati nih, biar produktif lagi. Tapi, bukannya utk bs patah hati maka aku hrs jatuh cinta lagi??? Hwaaaa...... ke laut aja deeehhh!!! :((

Jumat, 22 Agustus 2008

'RAHASIA' SURGA BUDJANA

Kemaren malem, aku n tim berkesempatan interview GIGI dan Ungu di studionya Uthe, tempat latihan mereka. Interview itu sendiri rencananya bakal ditayangkan sepaket dengan penayangan konser religi ‘Pintu Surga Mu’ di Trans TV. Singkatnya, setelah mengotak-atik list pertanyaan yg kebanyakan dibikin mamagaya (hihi..punten bu, baru tiba sehari sebelumnya, je... mamagaya memang partner yg oukey!), tercetuslah (halah) ide pertanyaan ini : “Apa arti Surga bagi masing2 dari kalian?”.
***
(Thomas-Arman-Budjana-Hendy)
(Pasha-Enda-Rowman-Oncy-Makki)

Sore itu, jadwalnya adalah seperti ini: Ungu latihan dulu - lalu break maghrib - interview band dengan kami (jd sekitar pk. 19.00 WIB) – latihan Ungu bareng GIGI. Tapi, namanya juga di Indonesia, jadwal berubah dikit atau waktu molor2 adalah hal yg biasa . Akhirnya, baru sekitar pk. 20.30 WIB, sesi interview dimulai, GIGI first. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan mamagaya, sementara aku ‘sibuk’ foto2 in mereka (huhu...siapa yg foto-in akuu??). Apalagi mamagaya wanti2 untuk ‘menjepretnya’ kapanpun itu, biar hasil fotonya natural dan terlihat bekerja sungguh2! (hahaha...).


(Eksis banget seeehhh?! :< )
Tibalah saatnya pertanyaan ttg ‘surga’. Thomas, menjawab. Arman menjawab. Budjana...pas dulu, dan dilemparkan ke Hendy. Lalu Hendy menjawab dan dibalikin lagi ke Budjana, hasilnya? Teteeup loh, Budjana gk mo jawab! Hehehe....
Yeah, man...i knew, its dificult for you. You has different answer, and wont to make some 'weird' or conflict, maybe? Padahal jawabannya ta tunggu2, loh! :)
Berbeda pandangan kan gak apa2, kita punya pilihan utk bertoleransi, bukan? :)

Jadi, bagaimanakah surga itu, Bli Budjana?
***
Saat kerja aku teringat pada sebuah diskusi antara aku dan temanku yang beda agama. Namanya Yohannes. Saat itu kita baru saja selesai makan malam bersama di kampus dan tiba-tiba dia menanyakan sebuah pertanyaan tentang perbedaan agama kita.

Yohannes : Yan, menurutku agama islam itu bagus, tapi gimana ya caranya aku tau kalo agama Islam itu agama yang benar? sedangkan untuk belajar tentang agama Islam aja aku males banget, dan kalau ketahuan orangtuaku bisa gawat tuh.

Dian : Mmm... Nes, kamu tau gak agama itu menjawab apa?

Yohannes : Apaan?

Dian : Salah satu yang dijawab agama itu khan keberadaan kita setelah kita meninggal, kalau kata agama Islam itu nanti abis kamu meninggal kamu akan didatangi 2 malaikat, kalau kata agama kristen itu nanti abis kamu meninggal kamu akan diampuni Tuhan Yesus, kalau kata agama budha itu nanti abis kamu meninggal kamu akan bereinkarnasi, dan sebagainya.

Yohannes : Jadi maksud kamu apa? kayaknya belum menjawab deh.

Dian : Maksudkuuu... kalau males belajar tentang agama Islam, tunggu aja sampai kamu meninggal, terus lihat agama mana yang bener, jika kamu didatangi 2 malaikat, maka Islam yang bener, jika kamu diampuni Tuhan Yesus, maka Kristen yang bener, jika kamu bereinkarnasi, maka Budha yang bener.

Yohannes : Waduh yan, kalo nunggu aku meninggal udah telat donk, ada cara lain?

Dian : Ada, kamu tanya orang yang bangun dari kematian, kalau ada ya, atau kamu pelajari aja agama Islam, mana yang lebih gampang? :D

(Diambil dari blognya Dianmaladi)

Senin, 04 Agustus 2008

PANGGUNG SANDIWARA KITA SEMUA

Memangnya kalau artis jadi politikus atau pejabat, kenapa? Lalu kalau politikus atau pejabat jadi artis, gimana?

Tadi pagi, infotainment membahas lolosnya Primus Yustisio (model, pemain sinetron) menjadi bakal calon Bupati Subang (ketahuan deh, kl aktivitas pagiku adalah nonton acara gosip...hehe). Nggak mau nambahi daftar orang yg pro ataupun kontra, cuma mesem2 aja, hari2 belakangan ini banyak artis yang melirik pentas politik dan panggung birokrat untuk diduduki. Sebenarnya dari dulu udah banyak juga artis yg jadi politikus atau pejabat. Hanya saja setelah masanya Adjie Massaid, Marissa Haque dan baru2 lalu Dede Yusuf, Rano Karno...makin banyak saja yg kesengsem dunia penuh 'kuasa' itu, hingga tersebutlah nama Saiful Jamil, Ayu Soraya, Gusty Randa, Poppy Darsono, Dewi Perssik, Tengku Wisnu...dan pasti akan lebih banyak lagi nama artis yg muncul.

Ini bukan saja masalah mampu atau tidak mampu, ini masalah budaya malu, menurutku. Kalau setiap orang punya rasa obyektivitas yg tinggi pada dirinya sendiri, sadar akan kemampuan dan potensi dirinya sendiri, pasti gak akan mudah latah untuk ikut2an sesuatu yg terlihat indah dan mudah dipermukaan. Dan kalau udah gitu, akhirnya it's all about responsibility. Tanggung jawab pada sesama dan Tuhan.

Haknya Primus atau Saiful Jamil, kalau memang mau jadi penguasa di pemerintahan. Dan haknya warga masyarakat daerah pemilihan, kalau memang mau memilih mereka. Mungkin, daripada milih orang yg gak dikenal, lebih baik milih yang memang terkenal :) Setidaknya, kalau terjadi 'sesuatu yg buruk' diperjalanan pemerintahan mereka nanti, akan lebih mudah 'nangkep' orangnya...'pan ude terkenal mukenye, bang! hehe...
Setidaknya (lagi), para artis ini sudah terbiasa berhadapan dg publik, dari kalangan bawah sampai atas, jadi mudah2an aja nggak gagap saat harus report hasil kerja mereka atau berdiskusi dg rakyat. Mudah2an sih begituuu...kalau pun enggak, kemampuan akting dan 'ajian ngeles' mereka terbukti sering berhasil, ko' !:p
Kemampuan 'merayu' konglomerat dan pengusaha untuk mengucurkan dana? Mudah2an masih bisa. Kemampuan menghibur masyarakat spt saat di layar kaca? Semoga tetap saja ada... :)

Jadi, dari kalangan artis atau bukan, kalau mau jadi pemimpin di pemerintahan, ya harus punya kemampuan. Nggak melulu ditunjukkan dg gelar2 akademis (meskipun ini jg penting!), tapi track record perilaku dan pemikiran kayanya lebih bisa dinilai dan dipertimbangkan. Inilah saatnya kecerdasan masyarakat diuji dalam memilih pemimpin mereka. Gunakan akal sehat dan hati nurani. Hasilnya, tunggu saja! Dan akan terjawab, sudah pintarkah kita?? :)